KUKAR, LINGKARKALTIM: Di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap berbagai cabang gim kompetitif, Indonesia Esports Association (IESPA) Kukar kini memperkuat strategi pembinaan melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas dan pelaku ekonomi kreatif.
Ketua IESPA Kukar, Candra Oktavianto mengatakan organisasi yang dipimpinnya tidak hanya berfokus pada pencarian atlet berprestasi, tetapi juga membangun ekosistem e-sport yang lebih luas dan berkelanjutan.
Menurutnya, cakupan cabang yang berada di bawah naungan IESPA terus berkembang mengikuti kebijakan dan perkembangan organisasi di tingkat nasional.
“IESPA itu kalau untuk kejuaraan tertinggi ada di Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas). Di Fornas cabangnya bermacam-macam dan sangat dinamis. Ada PUBG, Mobile Legends, Tekken dan lain-lain,” kata dia, Sabtu (20/6/2026).
Tidak hanya gim kompetitif yang populer saat ini, IESPA juga mulai menaungi berbagai cabang baru yang berkaitan dengan teknologi dan kreativitas digital.
“Kalau sekarang cakupan IESPA makin bertambah. Ada robotik, ada drone, bahkan card game seperti Pokémon juga sudah masuk dalam cakupan IESPA,” ungkap Candra.
Dia menjelaskan, pengembangan cabang e-sport di daerah mengikuti arah kebijakan yang ditetapkan di tingkat pusat.
Ketika sebuah cabang dipertandingkan dalam ajang nasional seperti Fornas, daerah akan menyiapkan proses pembinaan dan penjaringan atlet dari tingkat bawah.
“Kalau di pusat, misalnya di Fornas ada pertandingan cabang tertentu, kita juga akan mempersiapkan atletnya dari bawah. Jadi memang mengikuti apa yang menjadi program nasional,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, pihaknya berupaya Kukar bisa menghasilkan atlet yang siap bersaing dalam berbagai ajang tingkat provinsi maupun nasional.
Dalam upaya melakukan pembinaan, IESPA Kukar menempatkan penyelenggaraan kompetisi sebagai salah satu instrumen utama untuk menjaring bibit-bibit potensial.
Candra menerangkan, tantangan yang masih dihadapi saat ini adalah terbatasnya jumlah ruang atau tempat yang secara rutin menggelar kompetisi e-sport, khususnya di kalangan pelaku usaha seperti kafe.
“Di Kukar kendalanya memang masih jarang ada kafe yang mau membuat event. Biasanya hanya satu atau dua tempat saja yang aktif menggelar kompetisi,” terang dia.
Padahal, ia menilai bahwa kompetisi-kompetisi skala kecil yang sering digelar komunitas atau pelaku usaha lokal justru menjadi sumber utama munculnya talenta-talenta baru.
“Kalau ada kafe yang membuat event seperti itu tentu kami support. Karena biasanya dari kompetisi-kompetisi bawah atau istilahnya seperti tarkam kalau di sepak bola, potensi atlet itu justru banyak muncul dari sana,” sebut Candra.
Meski telah cukup sering digelar kompetisi Mobile Legends, PUBG, FIFA, maupun e-Football, IESPA Kukar saat ini ingin memperluas pembinaan ke cabang-cabang lain yang belum banyak tersentuh.
Oleh karena itu, dalam waktu dekat organisasi tersebut berencana melakukan konsolidasi dengan berbagai komunitas e-sport yang ada di Kukar untuk memetakan potensi pengembangan cabang baru.
“Mungkin karena kita masih sangat baru, kami mau mempelajari dulu game-game yang belum pernah kita buat event-nya di sini. Kalau Mobile Legends, PUBG, FIFA atau PES itu sudah sering. Kami ingin konsolidasi dengan komunitas-komunitas lain, misalnya Tekken dan cabang-cabang lainnya,” tuturnya.
Candra menegaskan bahwa pengembangan e-sport tidak dapat dilakukan sendiri oleh organisasi.
Maka, diperlukan sinergi antara komunitas, pelaku usaha, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kita ingin bersama-sama mengembangkan esports di Kukar,” tutup dia. (ASR)










