Mengais Manisnya Rupiah dari Air Benda: Kisah Pak Kuyun Menyulap Aren Liar Seradak Menjadi Gula Merah

Kuyun sedang memasak air aren di dapur kayu sederhana miliknya, Jalan Triyu 2 dekat kuburan seradak, Tenggarong, Sabtu (20/6/26). (Dilla/lingkarkaltim)
Kuyun sedang memasak air aren di dapur kayu sederhana miliknya, Jalan Triyu 2 dekat kuburan seradak, Tenggarong, Sabtu (20/6/26). (Dilla/lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Memanfaatkan potensi alam di sekitar menjadi kunci sukses Pak Kuyun (61) dalam memutar roda ekonomi keluarga. Sejak tahun 2023, pria kelahiran 1965 ini konsisten memproduksi gula merah orisinal dengan memanfaatkan pohon aren yang tumbuh subur di kebun milik mertuanya di Jalan Triyu 2, arah ke Jahab, dekat Pemakaman Muslimin Seradak.

Kuyun menceritakan keahlian mengolah nira aren ini bukan hal baru baginya. Jauh sebelum berkeluarga, ia sudah mengantongi pengalaman serupa saat tinggal di kawasan Bukit Biru.

Read More
banner 300x250

Pengalaman masa muda itulah yang ia bawa untuk mengelola sekitar 50 pohon aren liar di kebun mertuanya saat ini.

“Mertua kebetulan sudah sakit dan tidak bisa memanjat lagi. Jadi, daripada tidak termanfaatkan, saya kelola. Pohon aren di sini tidak pernah ditanam, mereka tumbuh sendiri lalu kita pelihara,” ujar Kuyun saat ditemui, Sabtu (20/6/2026).

Meskipun sehari-hari tinggal di pusat kota Tenggarong, ia rutin menyambangi kebun singgahnya tersebut untuk berproduksi.

Sebagai perajin gula merah, Kuyun menjelaskan keberadaan air nira atau yang akrab disebut air benda dalam bahasa Kutai sangat bergantung pada kecocokan pohon, bukan kontur tanah. Air nira bisa dihasilkan baik dari pohon aren yang tumbuh di dataran maupun di atas bukit, selama pohon tersebut berbuah. Selain airnya, buah aren tersebut juga bisa diolah menjadi kolang-kaling.

Namun, proses penyadapan air benda ini memerlukan teknik khusus dan kesabaran ekstra. Kuyun harus melakukan ritual “pemukulan” batang sebanyak 100 kali dorongan untuk merangsang air nira keluar optimal. Tantangan terbesar muncul saat musim hujan tiba.

“Kalau hujan, batang aren tidak boleh dipukul karena bisa membusuk. memanjat dan memproduksi terpaksa setop dulu sambil memantau cuaca,” jelas Kuyun yang juga membagi waktunya sebagai petugas kebersihan taman di Tenggarong.

Kesibukan sampingan tersebut, Kuyun mengumpulkan nira setiap hari, lalu mengolahnya menjadi gula merah setiap tiga hari sekali. Dari satu pohon, ia bisa mendapatkan setengah hingga satu dirigen berkapasitas 5liter penuh nira.

Proses memasak gula merah memakan waktu yang cukup panjang. Kuyun memulai proses perebusan nira dari jam 7 pagi hingga jam 4 sore. Setelah nira mengental, ia melakukan uji takaran sebelum mengaduk dan mencetaknya ke dalam cetakan khusus yang ia buat sendiri dari kayu mahoni. Setelah dingin, gula merah dibungkus rapi dengan plastik dan siap dipasarkan.

Dalam sebulan, Kuyun mampu memproduksi sekitar 150 biji gula merah secara mandiri. Produknya dijual per tangkup dengan harga Rp20.000, harga yang dinilai sangat terjangkau bagi masyarakat lokal.

Uniknya, meski proses produksinya masih sangat tradisional, Kuyun sudah melek digital dalam hal pemasaran. Ia mengandalkan media sosial seperti WhatsApp dan Facebook untuk menjaring pelanggan.

“Saya cuma jual online lewat WhatsApp dan Facebook. Tapi, banyak juga pemilik warung yang langsung datang ke sini untuk mengambil barang. Kadang-kadang sampai rebutan karena stoknya terbatas,” pungkas Kuyun optimis.

Rasa manis gula aren Seradak ini tidak hanya memanjakan lidah pembeli, tetapi juga berhasil menjadi penyokong ekonomi yang manis bagi keluarga Pak Kuyun. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *