KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) terus mendorong orang dengan HIV (ODHIV) agar rutin menjalani pengobatan antiretroviral (ARV). Langkah ini menjadi upaya menekan jumlah virus dalam tubuh, menjaga daya tahan tubuh, sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P3PL) Dinkes Kukar, dr. Laode Nur Aida, mengatakan HIV memang belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, melalui pengobatan yang teratur, kondisi kesehatan orang dengan HIV dapat dikendalikan sehingga tetap bisa menjalani aktivitas secara produktif.
“Bagaimana caranya agar mereka yang terinfeksi tetap bisa berobat dan menjaga daya tahan tubuhnya? Dengan minum obat secara rutin, jumlah virus dapat ditekan sehingga risiko gangguan kesehatan yang lebih berat bisa dikurangi. Dengan begitu, mereka tetap bisa produktif,” ungkap Laode, Kamis (5/11/2026).
Ia menjelaskan, pengobatan secara konsisten penting untuk mencegah jumlah virus berkembang dan menjaga sistem kekebalan tubuh tetap stabil. Sebab, ketika daya tahan tubuh menurun, orang dengan HIV lebih rentan terserang penyakit lain, termasuk tuberkulosis (TBC).
Selain memastikan pasien rutin mengonsumsi obat, Dinkes Kukar juga memperhatikan kondisi pasangan pasien. Apabila terdapat kemungkinan paparan, pasangan akan diarahkan untuk menjalani pemeriksaan sehingga dapat diketahui status kesehatannya dan memperoleh penanganan lebih dini.
Laode menyebutkan, berdasarkan data yang disampaikan, jumlah orang dengan HIV yang tercatat di Kukar berkisar 500 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 150 orang mendapatkan pelayanan di Puskesmas Rapak Mahang Tenggarong.
Menurutnya, angka tersebut berpotensi belum menggambarkan keseluruhan kasus sebenarnya. Sebab, masih ada masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan karena khawatir terhadap stigma dan diskriminasi.
“Masih ada fenomena gunung es karena sebagian orang mungkin belum mau memeriksakan diri. Mereka takut mendapat stigma atau dijauhi masyarakat. Padahal, tujuan kita adalah mengajak mereka lebih peduli terhadap kesehatannya,” jelasnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak memberikan perlakuan diskriminatif kepada orang dengan HIV. Sebab, virus tersebut tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari seperti berjabat tangan, bersentuhan, berpelukan, maupun makan bersama.
Penularan HIV dapat terjadi melalui hubungan seksual berisiko, paparan darah yang terinfeksi, serta dari ibu ke anak dalam kondisi tertentu.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Rapak Mahang Tenggarong, Siti Aminah, mengatakan pihaknya turut memperkuat pendampingan melalui pelayanan eksklusif dengan sistem temu janji. Inovasi tersebut diterapkan untuk menjaga privasi pasien sekaligus memastikan kepatuhan menjalani pengobatan.
“Pendampingan dilakukan melalui pembinaan rutin setiap tiga bulan, edukasi dokter, serta kerja sama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM),” ungkapnya.
Melalui berbagai upaya tersebut, Dinkes Kukar dan Puskesmas berharap orang dengan HIV tidak lagi takut memeriksakan diri dan menjalani pengobatan. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan lingkungan, mereka tetap dapat hidup sehat, beraktivitas, dan produktif di tengah masyarakat. (Adv/dil)










