KUKAR, LINGKARKALTIM: Upaya mewujudkan kemandirian pangan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus didorong melalui pengembangan pangan lokal. Salah satunya dengan mengembangkan tanaman sorgum dan jelai sebagai alternatif pengganti beras, sekaligus mengajak masyarakat membiasakan pola konsumsi pangan yang lebih beragam melalui gerakan “Kenyang Tak Harus Nasi”.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengatakan program Stop Boros Pangan dan diversifikasi pangan menjadi salah satu fokus pemerintah daerah dalam memperkuat ketahanan pangan.
Menurutnya, kemandirian pangan tidak bisa hanya bergantung pada beras. Kukar memiliki potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat alternatif.
“Kalau kita mau mandiri pangan, kita tidak boleh hanya bergantung pada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman pangan. Salah satunya melalui diversifikasi dengan memberdayakan pangan lokal yang kita miliki,” ungkap Ananias, Rabu (4/11/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan sorgum dan jelai akan dilakukan di dua kawasan Pusat Kawasan Pangan Terpadu (KPT), yakni Desa Sumber Sari dan Karang Tunggal. Pengembangannya tidak hanya sebatas budidaya, tetapi juga mencakup proses panen, pengemasan hingga pemasaran.
Ananias menyebut, jelai merupakan tanaman pangan lokal yang sudah dikenal masyarakat Kutai sejak dahulu, khususnya di kalangan masyarakat Dayak. Sementara sorgum merupakan tanaman yang berasal dari luar, tetapi dinilai cocok dibudidayakan di wilayah Kukar karena kondisi tanah dan iklimnya mendukung.
Bahkan, pengembangan kedua komoditas tersebut telah masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) Disketapang Kukar 2025–2029.
Pemilihan sorgum dan jelai bukan tanpa alasan. Selain memiliki kandungan karbohidrat yang hampir setara dengan beras, kedua bahan pangan ini juga memiliki bentuk dan cara pengolahan yang relatif mudah diterima masyarakat.
Sorgum putih, misalnya, cukup direndam semalaman sebelum dimasak menggunakan penanak nasi. Setelah diolah, tampilannya menyerupai nasi sehingga diharapkan masyarakat lebih mudah beradaptasi untuk mengonsumsinya.
“Selama ini masyarakat sering merasa belum makan kalau belum mengonsumsi nasi. Nah, sorgum dan jelai ini secara visual hampir sama dengan nasi. Cara memasaknya juga mudah, sehingga bisa menjadi alternatif pangan sehari-hari,” jelasnya.
Selain itu, sorgum dan jelai memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kandungan gizi. Keduanya dikenal memiliki kandungan gula relatif rendah, serat tinggi, serta tidak mengandung gluten. Karakteristik tersebut membuatnya berpotensi menjadi pilihan pangan yang lebih beragam dan mendukung pola konsumsi sehat.
Dari sisi budidaya, tanaman sorgum juga dinilai cukup menguntungkan karena tidak membutuhkan lahan persawahan dengan ketersediaan air melimpah seperti tanaman padi. Sorgum dapat tumbuh di lahan yang lebih beragam, termasuk pematang dan pinggir jalan.
Menariknya, satu kali penanaman sorgum dapat menghasilkan hingga tiga kali panen. Setelah panen pertama, tanaman dapat kembali tumbuh dengan pemupukan sehingga petani tidak perlu melakukan penanaman ulang dalam waktu dekat.
“Jadi, sekali tanam bisa dipanen sampai tiga kali dengan hasil yang relatif sama. Ini tentu lebih memudahkan masyarakat dalam proses budidaya,” tambahnya.
Tidak hanya bijinya yang dapat dimanfaatkan, batang sorgum juga memiliki potensi ekonomi. Batangnya dapat diperas untuk menghasilkan cairan manis yang bisa diolah menjadi pemanis alami, menyerupai pemanfaatan batang tebu.
Untuk memperluas pengembangan, Disketapang Kukar juga telah menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan kelompok wanita tani (KWT). Program tersebut direncanakan menyasar 20 kawasan bersama kelompok wanita tani di Kukar.
Melalui pengembangan sorgum dan jelai, Disketapang Kukar berharap masyarakat semakin mengenal potensi pangan lokal. Dengan begitu, ketergantungan terhadap beras dapat dikurangi secara bertahap sekaligus memperkuat kemandirian pangan daerah.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Kasi PMD) Kecamatan Loa Kulu, Eko Widodo, menilai keberhasilan panen sorgum menjadi contoh positif bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan potensi lahan yang tersedia.
Menurutnya, pengembangan sorgum menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peluang untuk berinovasi di sektor pertanian. Selain menjadi alternatif pangan, komoditas tersebut juga berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Kegiatan panen sorgum ini menunjukkan bahwa masyarakat mampu berinovasi dalam sektor pertanian. Sorgum dapat menjadi salah satu alternatif pangan yang menjanjikan dan bernilai ekonomis,” pungkasnya. (Adv/dil)










