KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemanfaatan Gedung Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) segera didorong agar bisa menjadi ruang aktivitas bagi komunitas kreatif sekaligus wadah pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, mengatakan gedung tersebut sebenarnya telah rampung dibangun dan tinggal menunggu peresmian. Namun, masih ada sejumlah kebutuhan pengadaan yang harus diselesaikan, terutama untuk menunjang keamanan fasilitas sebelum gedung mulai digunakan.
Hal itu menjadi perhatian pemerintah daerah agar bangunan yang telah selesai dibangun tidak dibiarkan terbengkalai dan bisa segera memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Masih banyak bangunan yang belum difungsikan dan harus kita selesaikan tahun depan. Saya juga ingin memastikan bersama Pak Bupati bahwa beberapa bangunan yang seharusnya sudah bisa digunakan segera difungsikan, termasuk Gedung Ekonomi Kreatif,” ungkap Rendi Solihin, Rabu (4/11/2026).
Secara fisik Gedung Ekraf sudah siap digunakan. Bahkan, sejumlah fasilitas pendukung seperti videotron dan panggung telah tersedia. Nantinya, gedung tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul komunitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kegiatan, termasuk acara pernikahan.
Menurut Rendi, pemanfaatan gedung tersebut diharapkan bisa mulai berjalan pada 2027 setelah kebutuhan fasilitas yang masih kurang diselesaikan.
“Gedung itu sebenarnya sudah selesai dan tinggal diresmikan. Namun, ada beberapa kebutuhan pengadaan yang cukup penting untuk pengamanan yang belum dilaksanakan. Itu yang masih ditunggu. Seharusnya tahun ini gedung tersebut sudah bisa digunakan,” jelasnya.
Terkait kondisi fasilitas, Rendi juga menyinggung adanya kehilangan kabel listrik yang terjadi sebelum proses serah terima gedung kepada Dinas Pariwisata Kukar.
Ia menyebut kehilangan tersebut berlangsung saat masa transisi penyerahan bangunan. Karena itu, persoalan tersebut perlu dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak terkait, termasuk kementerian, mengingat kejadiannya berlangsung sebelum aset diterima oleh Dinas Pariwisata.
“Kabelnya saja sudah hilang. Sebetulnya saya ingin menyampaikan kehilangan itu terjadi sebelum diterima oleh Dinas Pariwisata. Pada masa transisi itu, kehilangan yang terjadi lumayan besar. Ini bisa kita bicarakan ke kementerian,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Zikri Umulda, menjelaskan bahwa Gedung Ekraf dirancang sebagai ruang bersama bagi komunitas untuk mengembangkan kreativitas dan menjalankan berbagai aktivitas.
Pemkab Kukar akan memberikan kesempatan kepada seluruh komunitas untuk memanfaatkan gedung tersebut secara gratis selama kegiatan yang dilaksanakan bersifat komunitas dan tidak berorientasi pada keuntungan bisnis.
Namun, apabila komunitas ingin menggelar kegiatan yang memiliki unsur ekonomi atau kerja sama antarpelaku usaha (business to business/B2B), pemanfaatannya tetap diperbolehkan dengan konsep yang berbeda.
“Konsep pengelolaan Gedung Ekraf sendiri memang untuk komunitas beraktivitas. Semua komunitas bisa beraktivitas dan melakukan kegiatan di sana secara gratis. Namun, pada saat mereka ingin melakukan B2B atau kegiatan bisnis yang mendatangkan keuntungan bagi mereka, silakan,” ujar Zikri.
Menurutnya, pengelolaan gedung perlu memperhatikan keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif. Sebab, fasilitas yang disediakan pemerintah tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga diharapkan mampu mendorong lahirnya aktivitas ekonomi baru.
“Gedungnya difasilitasi secara gratis untuk komunitas. Tetapi, pada saat komunitas itu ingin melakukan kegiatan yang memiliki unsur ekonomi, silakan. Kalau semuanya gratis, ekosistemnya tidak akan terbangun,” pungkasnya.
Dengan konsep tersebut, keberadaan Gedung Ekraf diharapkan menjadi ruang produktif bagi komunitas kreatif di Kukar. Selain membuka kesempatan berkolaborasi, fasilitas ini juga diharapkan menjadi tempat lahirnya berbagai kegiatan dan peluang usaha baru bagi pelaku ekonomi kreatif daerah. (Adv/dil)










