KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerataan akses energi listrik hingga wilayah pesisir dan desa terpencil menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Program Permukiman Idaman Terbaik. Program yang merupakan bagian dari 17 Program Dedikasi Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin ini diwujudkan melalui penyediaan energi baru terbarukan (EBT), salah satunya dengan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Langkah tersebut terus didorong untuk membantu masyarakat di wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik konvensional. Salah satu desa yang menjadi sasaran pengembangan energi alternatif ini adalah Desa Sepatin, Kecamatan Anggana.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar, Arianto, mengatakan sejumlah desa sebelumnya telah mendapatkan bantuan instalasi listrik tenaga surya. Meski sudah mampu menyediakan penerangan selama 24 jam, kapasitas daya listrik yang tersedia masih belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah berencana meningkatkan kapasitas daya apabila didukung ketersediaan anggaran.
“Beberapa desa yang kemarin kita pasangi listrik tenaga surya itu sudah 24 jam. Namun, dari sisi kapasitas pemenuhan listriknya masih kurang. Jadi, kalau memang kita memiliki anggaran, nanti akan kita tingkatkan lagi kapasitas daya listriknya,” ungkap Arianto, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, pengembangan energi surya di Desa Sepatin kini memasuki tahapan penyelesaian. Pembangkit listrik tenaga surya komunal di desa tersebut telah rampung dibangun dan tinggal menunggu proses uji coba sebelum diresmikan.
Sebelumnya, masyarakat Desa Sepatin masih mengandalkan mesin diesel atau generator set (genset) untuk memenuhi kebutuhan listrik, terutama pada malam hari. Sementara pada siang hari, masyarakat memanfaatkan tenaga surya dengan kapasitas yang belum maksimal.
Dengan hadirnya pembangkit listrik tenaga surya komunal, pemerintah berharap kebutuhan penerangan masyarakat dapat terpenuhi sepanjang hari tanpa harus terus bergantung pada genset.
“Desa Sepatin ini baru selesai pembangunan pembangkit listrik tenaga surya komunalnya. Sebelumnya mereka masih mengandalkan diesel. Sekarang sudah selesai dan tinggal menunggu uji coba. Mudah-mudahan benar-benar bisa memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Sepatin selama 24 jam,” jelasnya.
Sistem penyediaan listrik di Desa Sepatin akan disesuaikan dengan kondisi geografis permukiman masyarakat. Mengingat wilayah tersebut terdiri atas desa induk, dusun, serta sejumlah pulau dengan permukiman yang tersebar, penggunaan satu sistem pembangkit tidak bisa diterapkan secara menyeluruh.
Untuk permukiman yang penduduknya berkelompok, pemerintah akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya komunal. Sementara bagi rumah-rumah yang lokasinya terpencar, akan diberikan bantuan Solar Home System (SHS) atau sistem tenaga surya mandiri untuk masing-masing rumah.
“Kalau daerah Sepatin itu memiliki beberapa pulau. Ada desa induk, dusun, kemudian beberapa RT yang terpisah. Untuk pulau-pulau yang permukimannya berkelompok, akan dibangun tenaga surya komunal. Namun, untuk yang terpisah akan diberikan tenaga surya secara per rumah atau SHS,” terangnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Sepatin, Suhardi, menyampaikan pembangunan instalasi tenaga surya komunal telah rampung 100 persen. Fasilitas tersebut telah terpasang di sejumlah titik, termasuk RT 7 dan RT 13.
Secara keseluruhan, terdapat sekitar 165 sambungan untuk rumah warga dan fasilitas umum (fasum) yang telah dipasang. Saat ini, instalasi tersebut juga sudah mulai diuji coba dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan penerangan.
“Jumlahnya sekitar 165, termasuk untuk fasilitas umum. Ini sudah terpasang semua, seperti di RT 7 dan RT 13. Alhamdulillah, pemasangannya berjalan baik dan sudah bisa digunakan untuk penerangan,” ujar Suhardi.
Meski demikian, ia mengakui kapasitas listrik yang tersedia masih memiliki keterbatasan apabila digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan peralatan elektronik rumah tangga.
Setiap rumah mendapatkan kapasitas maksimal sekitar 500 watt dengan bantuan empat unit lampu. Menurutnya, daya tersebut cukup membantu untuk kebutuhan penerangan, tetapi belum optimal untuk penggunaan peralatan elektronik seperti kulkas, kipas angin, dan televisi secara bersamaan selama 24 jam.
“Kalau untuk penerangan, sudah bisa dimanfaatkan. Tetapi, kalau untuk kebutuhan rumah tangga seperti kulkas, kipas angin, dan televisi, menurut saya pribadi belum bisa digunakan selama 24 jam. Mungkin sekitar 12 jam karena kapasitas dayanya masih terbatas,” jelasnya.
Selain pembangunan PLTS komunal, Desa Sepatin juga mendapatkan tambahan bantuan SHS yang nantinya diperuntukkan bagi masyarakat di kawasan tambak atau empang yang lokasi rumahnya berjauhan.
Jumlah bantuan tersebut diperkirakan hampir mencapai 300 unit. Pemasangan SHS ini menjadi tahapan lanjutan sebelum pemerintah daerah melaksanakan peresmian keseluruhan program penyediaan energi surya di Desa Sepatin.
Suhardi berharap bantuan tersebut dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, khususnya warga yang selama ini belum menikmati akses listrik secara layak.
Ia juga berharap perhatian pemerintah tidak hanya terpusat di Desa Sepatin, tetapi menjangkau desa-desa pesisir lainnya seperti Tanjung Berukang, Tani Baru, dan wilayah Muara Pantuan.
Menurutnya, masyarakat pesisir memiliki peran besar dalam mendukung perekonomian daerah melalui sektor perikanan dan sumber daya alam. Potensi kepiting, udang, dan ikan menjadi sumber penghidupan masyarakat, sementara wilayah tersebut juga berada di kawasan yang memiliki potensi minyak dan gas bumi.
“Harapan kami, seluruh masyarakat desa pesisir bisa mendapatkan hak yang sama untuk menikmati fasilitas listrik yang layak. Kami berada di kawasan yang memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi masyarakatnya masih membutuhkan banyak dukungan. Karena itu, kami berharap pemerintah terus memberikan perhatian dan bantuan kepada desa-desa pesisir,” pungkasnya.
Melalui Program Permukiman Idaman Terbaik, Pemkab Kukar berharap pemanfaatan energi baru terbarukan dapat memperluas pemerataan infrastruktur dasar, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta mendukung aktivitas ekonomi warga di wilayah pesisir dan daerah terpencil. (Adv/dil)










