Tak Hanya Anak Sekolah, Aulia-Rendi Perluas Manfaat MBG untuk Balita dan Lansia di Kukar

Bupati Aulia Saat resmikan Dapur MBG SPPG Bintang Kaltim, Kec. Sanga-Sanga. (Doc. Kukar Paper)
Bupati Aulia Saat resmikan Dapur MBG SPPG Bintang Kaltim, Kec. Sanga-Sanga. (Doc. Kukar Paper)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar anak-anak sekolah. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) di bawah kepemimpinan Bupati Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin turut memperluas perhatian terhadap pemenuhan gizi bagi kelompok masyarakat lainnya, yakni balita dan lanjut usia (lansia).

Langkah tersebut menjadi bagian dari 17 Program Dedikasi Kukar Idaman Terbaik yang diusung Aulia-Rendi. Melalui program makan bergizi gratis bagi balita dan lansia, pemerintah daerah ingin memastikan pemenuhan gizi tidak hanya dirasakan anak-anak usia sekolah, tetapi juga kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dalam menjaga kesehatan dan kualitas hidup.

Read More
banner 300x250

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, pelaksanaan MBG di Kukar saat ini masih menghadapi tantangan tersendiri. Berbeda dengan daerah yang memiliki akses dan jangkauan wilayah lebih mudah, kondisi geografis Kukar yang luas dan memiliki sejumlah wilayah terpencil membuat pemerataan layanan membutuhkan upaya lebih besar.

Menurutnya, sejumlah daerah di Pulau Jawa mungkin sudah mulai berfokus pada peningkatan kualitas pelaksanaan MBG.

“Kalau kita di sini memang isunya berbeda. Kalau mungkin di Pulau Jawa atau tempat-tempat yang jangkauannya mudah, itu sudah di level peningkatan kualitas. Kalau kita di sini masih berada pada isu bagaimana pemenuhan, bagaimana anak-anak kita di Kutai Kartanegara bisa terfasilitasi MBG dengan baik. Karena daerah kita ini wilayahnya berjauhan,” ungkap Aulia, Sabtu (31/10/2026).

Ia menjelaskan, untuk saat ini pelaksanaan MBG di Kukar masih dapat dioptimalkan di wilayah perkotaan dan kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Namun, pemerataan di wilayah yang masuk kategori tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih membutuhkan perhatian lebih.

Salah satunya di Kecamatan Kenohan dan Kembang Janggut. Meski pemenuhan MBG di wilayah tersebut sudah berjalan, kondisi geografis dan aksesibilitas menjadi tantangan dalam proses distribusinya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono. Ia menyebutkan, dari total 20 wilayah yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan MBG, sebanyak 17 di antaranya berada di kawasan 3T.

“Kukar ada 20 dan 17 di antaranya berada di kawasan 3T,” ujar Sunggono, Sabtu (17/10/2026).

Secara keseluruhan, sekitar 70 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah dibangun di Kukar. Dari jumlah tersebut, 17 unit berada di kawasan 3T, sedangkan sekitar 53 unit lainnya tersebar di kawasan aglomerasi.

Keberadaan dapur SPPG tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung pelaksanaan MBG, terutama untuk menjangkau penerima manfaat di berbagai wilayah. Meski demikian, kondisi geografis dan jarak antarkawasan tetap menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan distribusi makanan bergizi berjalan optimal.

Aulia menilai, upaya pemenuhan gizi melalui MBG merupakan langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak. Program tersebut tidak sekadar menyediakan makanan, tetapi juga memastikan anak-anak memperoleh asupan gizi sesuai kebutuhan pertumbuhan mereka.

“Untuk kondisi sekarang saja, kita baru bisa mengoptimalkan MBG di daerah perkotaan atau daerah padat penduduk. Misalnya kalau kita bicara Kenohan dan Kembang Janggut, pemenuhan sudah ada, tetapi memang kondisinya terkategori daerah 3T yang membutuhkan upaya tersendiri dalam proses pemenuhannya,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan geografis, Aulia menegaskan pemerintah daerah tetap mendukung keberlanjutan program tersebut. Ia bahkan melihat MBG sebagai program strategis yang memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Karena itu, Pemkab Kukar tidak hanya mengandalkan pelaksanaan MBG dari pemerintah pusat. Melalui program unggulan daerah, Aulia bersama Rendi juga menghadirkan perluasan manfaat makan bergizi gratis bagi balita dan lansia.

Kehadiran program tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan gizi berbeda. Balita membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan, sedangkan lansia memerlukan perhatian terhadap pola makan agar kesehatan dan daya tahan tubuh tetap terjaga.

“Menurut hemat kami, MBG ini merupakan program yang baik untuk pemenuhan gizi anak-anak kita. Untuk memastikan anak-anak memperoleh gizi sesuai standar pertumbuhan mereka. Di Kukar, program MBG yang sudah baik ini kita lengkapi lagi dengan program makan bergizi gratis untuk balita dan lansia,” bebernya.

Melalui perluasan sasaran tersebut, pemerintah daerah berharap upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat dapat berjalan lebih menyeluruh. Tidak hanya menyentuh anak usia sekolah, tetapi juga kelompok rentan yang membutuhkan dukungan pemenuhan nutrisi secara berkelanjutan.

Di sisi lain, dukungan terhadap pelaksanaan MBG juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian, sebelumnya menyampaikan rencana pemberian insentif fiskal dengan total anggaran Rp1 triliun bagi daerah yang dinilai kreatif dan memiliki komitmen dalam menyukseskan program MBG.

Penghargaan tersebut direncanakan diberikan pada tahun depan melalui penilaian antardaerah berdasarkan enam wilayah atau region. Kategori penilaian mencakup provinsi, kabupaten, dan kota yang dinilai paling mendukung serta mampu menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan program.

Tito menyebutkan, penghargaan akan diberikan kepada tiga daerah terbaik di setiap kategori, dengan besaran Rp3 miliar untuk peringkat pertama, Rp2 miliar untuk peringkat kedua, dan Rp1 miliar untuk peringkat ketiga.

“Tahun depan kita akan pertandingkan salah satunya kepala daerah yang paling mendukung program MBG atau kreatif dalam menyukseskan program Makan Bergizi Gratis ini. Tentu akan diberikan penghargaan,” ungkap Tito saat konferensi pers kick off sosialisasi Surat Edaran (SE) inspeksi dan penilaian kesesuaian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah, Rabu (28/10/2026).

Bagi Kukar, rencana pemberian insentif tersebut menjadi tambahan motivasi untuk terus memperkuat pelaksanaan program. Namun, lebih dari sekadar mengejar penghargaan, pemerintah daerah menempatkan pemerataan pemenuhan gizi sebagai kebutuhan masyarakat yang harus terus diperjuangkan.

Dengan mengintegrasikan program MBG pemerintah pusat dan program makan bergizi gratis bagi balita serta lansia, Aulia-Rendi berharap manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas. (Adv/dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *