Cuaca Kukar Tak Menentu dan Tak Sesuai Prediksi BMKG, BPBD Minta Tetap Waspada

Nur Sandi selaku sekretaris BPBD Kukar, Kamis (18/6/26). (Dilla/lingkarkaltim)
Nur Sandi selaku sekretaris BPBD Kukar, Kamis (18/6/26). (Dilla/lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Ketidakpastian cuaca yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menuai keluhan dibeberapa masyarakat. Kondisi alam yang berubah-ubah membuat prediksi cuaca maupun surat edaran mengenai datangnya musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dirasa sering meleset dari kondisi nyata di lapangan.

Rian, salah seorang warga Tenggarong, mengaku bingung dengan fenomena pancaroba yang sedang terjadi saat ini.

Read More
banner 300x250

“Cuaca sekarang sulit ditebak, kadang panas tiba-tiba hujan, jadi tidak menentu. Kadang rasanya tidak sesuai dengan rilis BMKG atau imbauan terkait musim panas yang sudah dikeluarkan,” keluh Rian, Kamis (18/6/2026).

Menanggapi keluhan mengenai perkiraan cuaca yang kerap tidak sejalan tersebut, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Nur Sandi, memberikan penjelasan teknis.

Dirinya mengakui dinamika cuaca saat ini sangat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor alam yang bergerak cepat.

“Cuaca itu dinamis. Faktor penguapan dan kelembapan lokal bisa dengan mudah menggeser prediksi hujan dari jadwal aslinya,” ujar Nur Sandi, Kamis (18/6/2026).

Surat Edaran (SE) Bupati Kukar yang disebarkan sebelumnya memang mengacu pada prediksi awal bahwa bulan sudah memasuki musim kemarau. Namun, terjadi anomali akibat fenomena alam di samudera.

“Ada perlambatan massa udara dari beberapa Anomali Cuaca. Akibatnya, kemungkinan masuknya musim kemarau yang sesungguhnya itu masih tertunda atau bergeser ke akhir Juni hingga Agustus nanti,” jelasnya.

Meskipun cuaca saat ini cenderung meleset dari prediksi kemarau dan intensitas hujan masih sering terjadi, BPBD Kukar meminta masyarakat tidak lengah.

Sebab, kondisi kelembapan tanah di Kukar saat ini memang masih terjaga aman, tetapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat pembukaan lahan oleh manusia tetap mengintai.

“Kondisi gambut di wilayah hulu masih aman terkendali. Titik api kecil hanya sempat muncul di Muara Badak akibat aktivitas pembukaan lahan saat Hari Tanpa Hujan (HTH) 10 hari pascalebaran lalu” beber Nur Sandi.

Melalui sistem ini, Pusdalops BPBD memantau pergerakan titik panas (hotspot) setiap dua jam sekali untuk memastikan apakah anomali cuaca panas di suatu titik berpotensi menjadi kebakaran atau tidak.

“Begitu indikator satelit memerah, relawan dan aparatur setempat langsung turun ground check. Antena pengawasan kami tetap kencang meski cuaca sedang tak menentu,” pungkasnya. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *