KUKAR, LINGKARKALTIM: Semangat kemanusiaan terus menyala di kalangan anak muda Tenggarong. Salah satunya ditunjukkan oleh Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) Al-Ikhlas yang bermarkas di Jalan Panjaitan, Tenggarong. Meski bergerak secara swadaya, puluhan pemuda di sini selalu siap sedia membantu warga.
Ketua Redkar Al-Ikhlas, Muhammad Marendi Agus Saputra, mengungkapkan bahwa saat ini ada sekitar 20 lebih anggota aktif yang mayoritasnya adalah anak muda. Terkait kesiapan sarana dan prasarana (sarpras), Marendi mengaku timnya cukup solid dalam merawat alat-alat operasional mereka.
“Sarana prasarana kami Alhamdulillah lengkap. Ada helm, baju, jaket, hingga sepatu safety. Kami juga punya satu unit chainsaw (sinso) di belakang. Sebulan sekali semua barang ini rutin kami tes dan cek fungsinya supaya selalu siap pakai kalau sewaktu-waktu ada kejadian,” ujar Marendi, Kamis (18/6/2026).
Menariknya, tugas Redkar Al-Ikhlas tidak hanya melulu soal menjinakkan si jago merah. Mereka juga kerap menjadi tumpuan warga untuk urusan penyelamatan lain, termasuk menangani gangguan hewan liar.
“Mayoritas penanganan warga selain kebakaran itu biasanya keluhan adanya ular di pemukiman. Untuk mobilitas, saat ini kami dibantu dua unit sepeda motor operasional satu bantuan dari warga dan satu lagi dari rekan-rekan Redkar Samarinda. Motor ini sangat membantu kami menembus gang-gang sempit di Tenggarong,” tambahnya.
Meski begitu, Marendi menaruh harapan agar ke depan Redkar Al-Ikhlas bisa mendapatkan bantuan armada roda empat demi memaksimalkan daya jangkau dan penanganan kebakaran yang lebih besar.
“Mudah-mudahan Redkar Al-Ikhlas semakin berkembang dan kerja sama antar-relawan bisa semakin solid,” harapnya.
Fenomena menjamurnya relawan pemadam kebakaran di Kukar mendapat perhatian khusus dari Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar, Fida Hurasani. Ia mencatat, ada hampir 700 relawan Redkar yang terdaftar dan tersebar di 20 kecamatan di Kukar.
Namun, Fida tidak menampik adanya realitas unik di lapangan. Dari ratusan nama yang terdaftar, seringkali hanya segelintir orang saja yang benar-benar muncul saat terjadi bencana.
“Daftarnya memang banyak, tapi kenyataannya saat kejadian, ya hampir wajah-wajah itu saja yang sering kita temui di lapangan. Memang kendala utamanya ada di sarana dan prasarana yang masih minim, dan kabupaten sendiri punya keterbatasan untuk mendukung semuanya,” ungkap Fida.
Fida menegaskan, pemerintah daerah sama sekali tidak mengecilkan peran relawan. Baginya, relawan adalah ujung tombak penanganan awal, terutama di wilayah desa yang dekat dengan sumber air.
Namun, ia mengingatkan agar momentum pembentukan Redkar di desa atau kelurahan jangan hanya sekadar ikut-ikutan tren alias ‘musiman’.
“Saya hanya mengingatkan, sekali kita memilih jadi relawan, di situlah bakti kita untuk masyarakat. Menjadi relawan itu tidak digaji, jadi kalau tidak punya jiwa sosial yang kuat, begitu dibentuk ya hilang begitu saja. Redkar yang punya ‘jiwa’ itu kelihatan, minimal seminggu atau sebulan sekali mereka pasti main dan koordinasi ke posko kita,” bebernya.
Menurut aturan, syarat pembentukan Redkar sebenarnya sangat mudah, yakni cukup mendaftar dan di-SK-kan langsung oleh Kepala Desa atau Lurah setempat.
Fida menyarankan agar pihak desa tidak perlu merekrut terlalu banyak orang, cukup 5 sampai 7 orang saja asalkan mereka benar-benar berkomitmen.
Di akhir bincang-bincang, Fida merefleksikan dunia pemadam kebakaran baik bagi ASN, tenaga THL, maupun relawan bukan sekadar tempat mencari kerja, melainkan ruang pengabdian.
“Saya sendiri sangat menikmati tugas di dinas ini. Siang dan malam, hampir seluruh hidup saya curahkan untuk pemadam kebakaran. Bahkan di rumah pun APD saya selalu siap. Begitu ada situasi darurat, kapan pun saya siap bergerak. Aura orang yang bekerja karena panggilan jiwa itu pasti beda,” pungkas Fida. (Dil)










