KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kukar terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sektor pariwisata melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis).
Keberadaan kelompok tersebut dinilai menjadi salah satu kunci untuk memastikan potensi wisata di tingkat desa dapat berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Plt. Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan mengatakan saat ini terdapat hampir 60 Pokdarwis yang tersebar di berbagai wilayah Kukar.
Namun, tidak seluruhnya masih aktif menjalankan kegiatan. Karena itu, Dispar Kukar kini melakukan pendataan ulang untuk memetakan Pokdarwis yang masih aktif maupun yang mengalami kevakuman kegiatan.
“Saat ini kami sedang mendata ulang mana Pokdarwis yang aktif dan mana yang, dalam tanda kutip, pasif. Bukan berarti bubar, tetapi pasif,” jelas dia, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, Pokdarwis yang pasif tidak serta-merta dianggap tidak memiliki potensi.
Dispar Kukar justru berupaya menghidupkan kembali kelompok tersebut agar dapat mengambil peran dalam mengembangkan destinasi wisata yang berada di wilayahnya.
“Yang pasif ini sedang kami upayakan untuk diaktifkan kembali, karena potensinya sebenarnya luar biasa. Siapa lagi yang bisa mengelola objek wisata itu kalau bukan masyarakat setempat melalui Pokdarwis,” kata Awang Agus.
Dia menilai, pengelolaan destinasi oleh masyarakat lokal memiliki keunggulan tersendiri.
Sebab, anggota Pokdarwis merupakan bagian dari masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di sekitar objek wisata.
Komposisinya pun cukup beragam, mulai dari pemuda, karang taruna, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) desa hingga unsur masyarakat lainnya.
Kedekatan tersebut mampu menciptakan rasa memiliki terhadap destinasi wisata. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut bertanggung jawab menjaga sekaligus mengembangkan potensi yang ada di daerahnya.
“Biasanya kalau mereka mengelola objek wisata di daerahnya sendiri, rasa memiliki dan tanggung jawabnya lebih besar. Ada rasa malu juga kalau tidak bisa mengelolanya dengan baik,” sebutnya.
Maka dari itu, Dispar Kukar tidak hanya mendorong pembentukan Pokdarwis, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia di dalamnya.
Seperti, sosialisasi, pelatihan, bimbingan teknis (Bimtek) hingga sertifikasi sesuai kebutuhan pengelola wisata.
“Biasanya kami memberikan pelatihan atau bimbingan teknis. Di Dinas Pariwisata ada bidang Pengembangan SDM Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menangani kegiatan tersebut. Kami juga melaksanakan sertifikasi sesuai kebutuhan,” kata dia
Ia mengatakan bahwa lenguatan Pokdarwis juga tidak terlepas dari arah pembangunan Kukar yang menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas.
Pengembangan pariwisata telah masuk dalam visi dan misi kepala daerah, termasuk Program Dedikasi Kukar Idaman Terbaik.
Sektor pariwisata diarahkan menjadi salah satu sumber pendapatan baru yang bersifat non-ekstraktif.
“Seperti yang disampaikan Bapak Bupati, sumber daya alam yang tidak terbarukan suatu saat akan habis. Karena itu sektor pariwisata perlu terus dikembangkan sebagai sumber ekonomi baru,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu Pokdarwis Pesona Pengempang di Muara Badak telah terlibat dalam pengelolaan dan pengembangan pariwisata sejak 2017.
Ketua Pokdarwis Pesona Pengempang, Mansyur menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki sejumlah destinasi pantai dengan karakter dan konsep yang berbeda.
Perbedaan konsep tersebut justru menjadi daya tarik tersendiri karena wisatawan memiliki banyak pilihan sesuai kebutuhan dan selera.
“Pemilik pantai kan di sini beda-beda, pantai satu dengan yang lain beda-beda, kemudian inovasinya pun beda-beda. Sekarang tinggal masyarakat memilihnya yang seperti apa,” kata dia.
Ia mencontohkan Pantai Panrita Lopi yang menawarkan hiburan musik pada akhir pekan, sementara destinasi lain seperti Blue Beach lebih menonjolkan suasana tenang yang cocok untuk wisata keluarga.
“Tergantung dari seleranya, jadi dia tinggal pilih,” ujar Mansyur.
Menurutnya, keberadaan banyak destinasi dalam satu kawasan membuat pengelola harus terus melakukan inovasi agar wisatawan tidak merasa bosan.
Dia menilai, destinasi wisata setidaknya perlu menghadirkan sesuatu yang baru secara berkala untuk menjaga daya tarik dan mempertahankan kunjungan.
“Artinya setiap destinasi itu tergantung, karena kalau yang namanya wisata ya minimal tiga bulan sekali itu harus ada inovasi baru sehingga suasana bisa landai lagi,” sebutnya.
Di kawasan yang dikelola Pokdarwis Pesona Pengempang, potensi wisata juga tidak hanya mengandalkan pantai.
Mansyur menyebut pihaknya turut mengembangkan wisata bawah laut berupa snorkeling dan diving, serta wisata susur sungai untuk melihat bekantan.
“Di Badak sini banyaknya pantai, kurang lebih 14 sampai 15 saat ini. Kemudian ada wisata bawah laut, snorkeling dan diving, ada susur bekantan juga, susur sungai bekantan,” jelasnya
Mansyur mengatakan Pantai Panrita Lopi yang menjadi salah satu demplot Pokdarwis Pesona Pengempang mematok biaya sekitar Rp70 ribu pada hari biasa.
Harga tersebut sudah mencakup sejumlah fasilitas, termasuk perjalanan penyeberangan pulang-pergi, penggunaan gazebo serta akses mandi.
“Sudah include semua. Jadi penyeberangannya sudah include PP, kemudian mau mandi berapa kali, mau gunakan gazebo berapa kali, kecuali dia makan di kafenya baru bayar sendiri,” tutur dia.
Model pengelolaan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dapat mengembangkan potensi wisata sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari destinasi yang mereka miliki.
Ia berharap potensi wisata di Kukar dapat terus berkembang hingga mampu bersaing dengan destinasi unggulan lainnya di Kaltim.
“Harapannya semoga ke depannya Muara Badak ini bisa menjadi destinasi yang tidak kalah dengan daerah-daerah lain seperti Derawan yang ada di sekitar sini, karena kayaknya paling agak lengkap ya di sini, di Kukar ini, kebetulan ada di Muara Badak,” pungkas Mansyur. (ASR)










