Tanjung Halat, Objek Wisata di Tengah Danau Semayang

Objek Wisata Tanjung Halat Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun. (Istimewa)
Objek Wisata Tanjung Halat Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun. (Istimewa)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Hamparan Danau Semayang tidak hanya menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada kawasan perairan.

Di tengah danau tersebut, terdapat sejumlah potensi yang mulai dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Read More
banner 300x250

Salah satunya Tanjung Halat, sebuah kawasan yang berada di pulau di tengah Danau Semayang, Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun.

Potensi geografis tersebut menjadi daya tarik tersendiri yang dikembangkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman.

Ketua Pokdarwis BMT Desa Sangkuliman, Akhmad Rojali mengatakan keberadaan Tanjung Halat di tengah danau membuat akses menuju kawasan tersebut berbeda dengan objek wisata pada umumnya.

“Kalau ke Tanjung Halat, wisatawan memang harus menggunakan perahu. Jadi perjalanan menuju lokasi itu sendiri sudah menjadi bagian dari pengalaman yang kami tawarkan,” kata dia, Sabtu (12/9/2026).

Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan wisata berbasis perairan.

Pengunjung tidak hanya menikmati kawasan Tanjung Halat ketika tiba di lokasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman menyusuri perairan Danau Semayang selama perjalanan.

Tidak hanya memanfaatkan panorama danau, kawasan tersebut saat ini juga telah tersedia panggung pertunjukan yang dibangun melalui dukungan Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar.

Keberadaan panggung tersebut menjadi salah satu fasilitas yang dapat digunakan untuk menghidupkan aktivitas wisata sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kesenian lokal.

“Panggungnya sudah ada, tinggal bagaimana kami mengisinya dengan kegiatan yang sesuai. Kalau ada agenda, fasilitas itu bisa menjadi tempat untuk menampilkan kesenian masyarakat,” ujar Rojali.

Salah satu gagasan yang pernah dibahas Pokdarwis adalah mengangkat tradisi pelas danau sebagai bagian dari atraksi wisata.

Pihaknya menilai bahwa tradisi tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada kawasan perairan.

Namun, pengemasannya menjadi atraksi wisata masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.

Dia mengatakan, pengembangan budaya sebagai atraksi wisata tidak boleh dilakukan hanya dengan mengambil unsur-unsur tradisi kemudian menjadikannya pertunjukan tanpa memahami makna yang terkandung di dalamnya.

“Kami tidak ingin mengambil budayanya begitu saja untuk pertunjukan. Orang yang memahami tradisinya harus dilibatkan supaya yang disampaikan kepada wisatawan tetap sesuai dengan makna aslinya,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dispar Kukar, Awang Ivan Ahmad mengatakan bahwa mereka terus mendorong masyarakat untuk menjadikan kegiatan wisata sebagai salah satu pilihan hiburan.

Menurutnya, keberlangsungan sektor pariwisata juga sangat dipengaruhi oleh minat masyarakat untuk berwisata.

Semakin tinggi masyarakat memanfaatkan destinasi wisata yang tersedia, semakin besar pula peluang aktivitas ekonomi dan pariwisata di daerah dapat terus bergerak.

Karena itu, masyarakat lokal memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas wisata di Kukar, termasuk destinasi-destinasi yang sedang dikembangkan seperti Tanjung Halat.

“Harapannya masyarakat tetap ingin berwisata sebagai pilihan hiburan mereka,” pungkasnya. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *