Menembus Pasar Premium dan Manajemen Biaya: Cerita Bisnis Hidroponik dari Tenggarong

Green House Urang Hulu milik Syahrian berlokasi di Gang Tabah, Jalan Gunung Sentul, Tenggarong, Rabu (22/7/26). (Dilla/lingkarkaltim)
Green House Urang Hulu milik Syahrian berlokasi di Gang Tabah, Jalan Gunung Sentul, Tenggarong, Rabu (22/7/26). (Dilla/lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Sektor pertanian modern berbasis hidroponik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan potensi ekonomi yang menjanjikan. Dengan segmentasi pasar yang tepat dan tata kelola mandiri, bisnis sayur hidroponik terbukti mampu bertahan di tengah fluktuasi biaya operasional.

Hal tersebut dibuktikan oleh Syahrian (33), pemilik usaha hidroponik Urang Hulu Green Farm yang berlokasi di Gang Tabah, Jalan Gunung Sentul, Tenggarong. Mengembangkan usahanya sejak 2022, ia memilih fokus pada komoditas bernilai jual tinggi seperti selada, pakcoy, kale, dan seledri.

Read More
banner 300x250

“Komoditas utama kami selada. Karena ini komoditas utama, target pasar kami rata-rata ke gerai frozen food untuk menyasar segmen pasar premium. Selain itu, kami juga mengisi pasokan di pasar tradisional dan sempat memenuhi permintaan program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Syahrian.

Dari sisi skala produksi, Urang Hulu Green Farm saat ini mengelola ribuan lubang tanam dengan kapasitas panen berkala yang cukup stabil.

sekitar 2.100 lubang tanam khusus selada yang mampu menghasilkan 60 hingga 80 kilogram per siklus panen. Sementara untuk pakcoy, kapasitasnya berkisar antara 40 hingga 50 kilogram yang dikelola.

Sama seperti sektor usaha lainnya, bisnis hidroponik tak luput dari dampak kenaikan harga bahan baku dan penunjang produksi. Syahrian mengungkapkan, komponen biaya yang paling membengkak berada pada bahan pengemasan (packaging).

“Dampak paling terasa ada di packaging, harganya naik hampir 50 persen. Dari yang awalnya Rp30.000, sekarang melonjak jadi Rp50.000. Untuk benih sempat naik gila-gilaan sampai Rp400.000 per 1.000 pil dari harga normal Rp320.000, tapi sekarang harganya sudah mulai melandai,” jelasnya.

Kendati biaya pengemasan melonjak signifikan, Urang Hulu Green Farm mengambil keputusan bisnis untuk tidak menaikkan harga jual di tingkat konsumen. Strategi menahan harga ini diambil demi menjaga kualitas dan kepuasan pelanggan loyal di pasar premium.

Meski dijalankan secara swadaya dan mandiri tanpa intervensi permodalan dari pemerintah, Syahrian menilai bisnis hidroponik di Kukar memiliki prospek nilai tambah (value-added) yang besar jika digarap secara berkelanjutan.

“Hidroponik ini sebenarnya tidak cuma menjual sayur segar. Kalau diolah lebih lanjut, produk turunannya banyak, salah satunya bisa dikembangkan menjadi produk kesehatan,” tambah pria asal Muara Muntai tersebut.

Bagi konsumen maupun mitra bisnis yang ingin memesan produk sayur segar hidroponik ini, pemesanan dapat dilakukan secara daring melalui akun Instagram @kebonurghulu. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *