KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemanfaatan kawasan Danau Semayang di Kecamatan Kenohan untuk menanam padi ternyata bukan pola pertanian yang baru diterapkan masyarakat.
Metode tabur benih padi di kawasan danau tersebut telah dilakukan warga sejak sekitar 1996.
Pola pertanian itu kembali diterapkan ketika debit air Danau Semayang menyusut akibat musim kemarau.
Hamparan kawasan yang sebelumnya tergenang dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan pertanian musiman.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Farid mengatakan bahwa masyarakat telah memiliki pengalaman panjang dalam memanfaatkan kondisi Danau Semayang untuk bercocok tanam.
“Itu di tahun 1996, kalau tidak salah. Kemudian tahun 2015 pernah dilakukan dan pernah panen di sana,” kata dia, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, metode tersebut dikenal dengan istilah Tabela Dar, yakni tanam benih langsung di dalam air.
“Dulu pernah dilakukan di daerah Banjar. Namanya Tabela Dar, tanam benih langsung dalam air. Itu sudah pernah dicoba dan tumbuh,” ungkap Farid.
Dia menerangkan, metode tersebut tidak dilakukan setiap tahun. Warga baru kembali memanfaatkannya ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang dan debit air danau mengalami penyusutan.
Kondisi Danau Semayang yang menyusut tahun ini pun membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkannya kembali.
Sebelum pemerintah memberikan dukungan, masyarakat setempat telah lebih dahulu menanam padi. Tanaman yang ditanam warga saat ini bahkan telah berusia sekitar 12 hingga 22 hari.
Kehadiran Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri yang ikut menebar benih padi pada beberapa waktu lalu lebih sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap petani.
“Jadi hadirnya Pak Bupati di sana dan kami (Distanak) adalah membantu, menyemangati kepada petani. Ada bentuk perhatian dari pemerintah daerah untuk petani di Semayang,” tuturnya.
Farid mengatakan, dukungan tersebut juga bertujuan mendorong masyarakat memperluas lahan tanam sehingga kondisi kemarau tidak sepenuhnya menghambat aktivitas ekonomi warga.
“Jadi itu memang perhatian, bantuan dari kami, supaya petani membantu petani untuk menambah lagi luas tanam,” tutur dia.
Untuk penanaman kali ini, varietas yang digunakan adalah Inpari 32. Distanak menilai varietas tersebut memiliki ketahanan yang cukup baik terhadap penyakit.
Total benih yang ditebar mencapai lebih dari satu ton untuk mendukung penanaman sekitar 100 hektare.
Tanaman diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 110 hari hingga memasuki masa panen.
Ia menyebut bahwa pengalaman masyarakat pada 2015 menjadi salah satu dasar pemerintah daerah untuk kembali memberikan dukungan terhadap pola pertanian di Danau Semayang.
Saat itu, metode yang sama pernah dilakukan dan menghasilkan panen. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kawasan danau yang mengalami penyusutan air berpotensi dimanfaatkan untuk pertanian pada periode tertentu.
Namun, keberhasilan pada masa lalu tidak serta-merta menjamin hasil yang sama pada kondisi sekarang.
“Faktor cuaca, ketinggian air, kondisi tanah, kualitas benih, hingga perubahan debit danau tetap menjadi aspek yang perlu diperhatikan,” kata Farid.
Pengamat Pertanian Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Prof. Ince Raden mengatakan penanaman padi pada kondisi lahan yang berada di sekitar permukaan air bukan sesuatu yang mustahil.
Namun, keberhasilannya dipengaruhi sejumlah faktor teknis.
Menurutnya, terdapat pola penanaman tertentu yang memungkinkan tanaman padi tumbuh pada kondisi tersebut.
“Biasanya ada media yang disiapkan, benihnya dulu di atas itu, baru nanti di bawahnya akan tumbuh akarnya yang menyentuh permukaan tanah,” terang dia.
Profesor di bidang pertanian itu mengatakan bahwa jenis benih dan kondisi air juga menjadi faktor penting.
Jika volume air kembali meningkat setelah benih ditebar, benih berpotensi terbawa atau berpindah mengikuti pergerakan air.
Sebaliknya, jika kondisi air relatif tenang dan terdapat media yang mendukung, benih memiliki peluang untuk masuk ke tanah dan berkembang.
“Kalau dia benih yang memang bernas, biasanya dia akan jatuh atau masuk ke dalam tanah. Seperti kita punya benih yang bernas, kita letakkan di atas permukaan air. Kalau yang bagus, itu pasti tenggelam,” jelas Ince.
Dia mengaku belum dapat memberikan penilaian secara pasti terhadap metode yang dilakukan di Danau Semayang karena tidak melihat langsung kondisi lokasi ketika proses penyemaian berlangsung.
Ia menilai, keberhasilan metode tersebut sebaiknya tidak langsung disimpulkan hanya berdasarkan proses penebaran benih. Perkembangan tanaman di lapangan harus menjadi indikator utama.
Dia meminta masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan metode tersebut berhasil ataupun gagal sebelum terdapat bukti pertumbuhan tanaman.
“Jadi kita tidak menjustifikasi bahwa berhasil atau tidak, tapi kita perlu ada bukti,” pungkas dia. (ASR)










