KUKAR, LINGKARKALTIM: Setelah melakukan pencarian marathon selama seminggu penuh, Tim SAR Gabungan akhirnya resmi menutup operasi pencarian Hasriarto (37), nelayan asal Desa Muara Badak Ulu yang dilaporkan hilang di perairan Muara Berau, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar).
Penutupan operasi pencarian tersebut diputuskan pada Rabu (22/7/2026) sore, lantaran hingga hari ketujuh, petugas tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban di laut.
Koordinator Pos SAR Sangatta, Dwi Adi, menjelaskan meski operasi pencarian aktif secara fisik di lapangan dihentikan, status penanganan kasus ini kini dialihkan menjadi pemantauan.
“Untuk pencarian hari ini resmi kita tutup, namun statusnya kita ubah menjadi pemantauan,” ujar Dwi Adi saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).
Melalui status pemantauan ini, Basarnas telah menyebarkan informasi dan maklumat pelayaran ke berbagai kanal komunikasi publik maupun maritim. Pihaknya berkoordinasi dengan grup-grup SAR, kelompok nelayan, Stasiun Radio Pantai (SROP), hingga penyiaran berita pelayaran di jalur Selat Makassar.
“Jadi kapal-kapal yang keluar masuk di perairan Selat Makassar kita imbau, jika melihat atau menemukan keberadaan korban, agar segera melapor ke tim SAR terdekat atau pihak berwenang,” jelasnya.
Penutupan operasi SAR ini diambil berdasarkan pertimbangan teknis di lapangan. Selain batas waktu pencarian sesuai SOP, luas area yang sudah disisir petugas terbilang sangat masif.
“Area pencarian sudah sangat luas, mencapai radius 580 nautical mile persegi. Di samping itu, kendala cuaca ekstrem seperti angin kencang, ombak tinggi, dan arus deras sangat menyulitkan pergerakan tim. Hingga hari terakhir, nihil petunjuk maupun informasi keberadaan korban,” terangnya.
Menyikapi musibah ini dan kondisi cuaca laut yang sedang kurang bersahabat, Basarnas memberikan imbauan tegas kepada para nelayan lokal di sepanjang perairan Muara Badak hingga Sangatta agar lebih meningkatkan kewaspadaan.
Saat ini perairan utara Kaltim sedang memasuki musim “Angin Selatan” yang identik dengan tiupan angin kencang dan gelombang tinggi.
“Bagi nelayan yang tetap harus melaut mencari nafkah, kami mohon untuk mengutamakan keselamatan. Pastikan kapal dilengkapi alat pelampung, minimal membawa life jacket atau menyiapkan jeriken-jeriken kosong sebagai alat apung darurat jika terjadi hal yang tak diinginkan,” imbaunya. (Dil)










