KUKAR, LINGKARKALTIM : Sujumlah pedagang kuliner di Tenggarong mengeluhkan harga cabai mencapai Rp 100 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini baru saja dirasakan sejak 3 hari lalu. Hal ini membuat pedagang harus memutar pikiran, untuk kebutuhan belanja lainnya.
Salah seorang pedagang nasi goreng Suliswanto mengatakan, komoditas cabai ini menjadi kebutuhan dalam menjalankan usaha. Jika berjualan nasi goreng tanpa ada cabai, pastinya konsumen tidak jadi membeli.
“Kebutuhan cabai menjadi yang utama, dalam menjual nasi goreng,” kata Suliswanto pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Senin (7/9/2026).
Sehingga kenaikan cabai ini sangat memberikan dampak terhadap meningkatnya biaya operasional.
“Jadi untuk menyiasatinya, cabai 1 Kg biasanya dalam 5 hari. Maka saat ini hanya membeli cabai setengah (1/2) kilogram dan dicampur dengan cabai merah,” ucapnya.
Pihaknya menduga kenaikan cabai ini karena barangnya kosong atau sulit, yang disebabkan gagal panen karena faktor cuaca ekstrim.
Sementara itu petani cabai di Tenggarong Windi Astuti menyebutkan, harga jual cabai dari petani terus mengalami peningkatan yang sebelumnya sekitar Rp. 65 ribu per kilogram dan saat ini menjadi Rp. 75 ribu per kilogram.
“Kenaikan ini karena komoditas cabai tiung sulit didapat, sehingga para pedagang berani bayar mahal karena sulit didapat,” sebut Windi Astuti.
Menurutnya, kenaikan harga cabai ini memiliki sisi positif yaitu dapat mendongkrak pendapatan petani. Sedangkan sisi negatifnya, masyarakat menjerit.
“Tapi, kalau harga cabai saat ini mencapai Rp. 75 ribu per kilogram itu sesuai dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Kalau harga cabai di petani hanya Rp. 30-40 ribu, sangat tipis keuntungannya,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar Burhanuddin menjelaskan, akibat musim kemarau sejumlah harga komoditas pangan mengalami kenaikan diantaranta, cabai tiung yang sebelumnya hanya Rp. 40-50 ribu per kilogram, saat ini mencapai Rp. 100 ribu perkilogram.
“Yang mengalami kenaikan ini sebagian besar komoditas pertanian, karena banyak petani lokal yang gagal panen,” jelas Burhanuddin.
Ia juga mengaku khawatir untuk beberapa bulan kedepan mengalami kelangkaan komoditas pertanian. Karena khususnya di Kaltim saja mengalami kemarau panjang dan di pulau jawa terjadi erupsi gunung.
“Sebagian besar komoditas pertanian kita juga berasal dari luar daerah, termasuk Pulau Jawa,” ungkapnya.
Adapun langkah dalam menekan tingginya harga sejumlah komoditas diantaranya menggelar Operasi Pasar Murah (OPM) dengan bekerjasama dengan Bulog Samarinda dan melibatkan sejumlah petani.
“Kami berharap, kenaikan harga komoditas pertanian ini bisa segera stabil. Mengingat dampaknya luar biasa bagi masyarakat,” pungkasnya. (riz)










