KUKAR, LINGKARKALTIM: Berawal dari himpitan ekonomi dan niat membantu mertua di dapur, Yusnah kini berhasil mengelola usaha jajanan tradisional khas Kutai dari kediamannya di Desa Muara Kaman Ulu RT 029, Kecamatan Muara Kaman.
Usaha rumahan yang ia rintis sejak anaknya belum sekolah hingga kini duduk di bangku SMA tersebut terus berkembang pesat.
“Inisiatif awal buka usaha ini karena faktor ekonomi. Waktu itu saya sering lihat mertua bikin kue, dari situ saya belajar bantu-bantu dan kepikiran untuk coba jualan sendiri,” ujar pemilik kue khas Kutai asal Muara Kaman tersebut, Jumat (28/8/2026).
Kini, Yusnah memproduksi 10 varian kue tradisional Kutai, antara lain roti kacang, keminting, semprit, elat sapi, roti isi kacang, roti isi nanas, roti balok, tenteng, tole-tole, hingga kue tar. Dalam sekali produksi, ia mampu menghasilkan 500 hingga 1.000 porsi kue. Dari sederet pilihan tersebut, kue keminting menjadi produk paling laris dan dicari pelanggan.
Produknya dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan kecil, sedang, hingga besar (1 kg) dengan patokan harga mulai dari Rp12.000 hingga Rp112.000 untuk varian keminting kemasan besar.
Pemasaran kue buatan Yusnah pun telah menjangkau berbagai wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim). Pesanan rutin berdatangan dari Tenggarong dan Samarinda, bahkan pengiriman terjauh sudah mencapai Kutai Barat (Kubar).
Sebagai bagian dari kelompok usaha UMKM Mawar Delta binaan PT Bara Tabang, seluruh produk Yusnah kini sudah mengantongi sertifikasi halal.
Dari usaha rumahan ini, ia mampu mengantongi omzet rata-rata Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan. Angka tersebut melonjak tajam saat momen hari besar keagamaan.
“Kalau hari besar seperti bulan puasa menjelang Lebaran, pesanan bisa melonjak sampai harus bikin 10 kilogram kue,” ungkapnya.
Kualitas rasa dan keautentikan resep rumahan ini juga yang membuat para pelanggan setianya enggan berpaling. Intan, salah seorang pelanggan asal Tenggarong, mengaku selalu memesan kue buatan Yusnah menjelang Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha, meski produk serupa sebenarnya ada yang menjual di Tenggarong. Menurutnya, urusan jajanan tradisional sangat bergantung pada kecocokan rasa.
“Saya biasa beli di sini walau di Tenggarong ada juga yang jual. Saya sudah lama langganan, apalagi menjelang Idulfitri atau Iduladha, karena urusan kue itu kembali ke selera,” tutur Intan.
Meski saat ini masih menjalankan produksi secara independen di rumah, Yusnah menyimpan harapan besar untuk masa depan usahanya.
“Harapannya bisa buka toko saja dulu,” tandasnya. (Dil)










