Mengintip Bisnis Kacamata Nayla Collection di Tenggarong

Lapak Usaha Kacamata Nayla Collection, Pasar Mangkurawang, Selasa (25/8/26). (Dilla/lingkarkaltim)
Lapak Usaha Kacamata Nayla Collection, Pasar Mangkurawang, Selasa (25/8/26). (Dilla/lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Menjalani usaha ritel di tengah dinamika ekonomi daerah memerlukan kejelian dan keberanian mengambil keputusan. Hal itulah yang dilakoni Pianto Supriyadi (37), pemilik usaha kacamata Nayla Collection di Pasar Mangkurawang, Tenggarong. Sudah berkecimpung di dunia bisnis kacamata sejak 2020, Pianto paham betul pasang surut menggaet pembeli.

Awal mula Pianto terjun ke bisnis ini berawal dari keberanian merintis lapak kecil. Saat itu, ia mencoba menjual kacamata bersanding dengan jam tangan.

Read More
banner 300x250

“Dulu coba-coba, pertama jualan kacamata gabung sama jam. Cuma karena tempatnya sempit, saya kalahkan jamnya dan fokus ke kacamata saja. Peminatnya lumayan, walau namanya usaha pasti ada pasang surutnya,” ujar Pianto saat ditemui di lapaknya, Selasa (25/8/2026).

Selain di Pasar Mangkurawang, ia juga mengelola toko fisik lainnya di kawasan Kampung Baru, buka dari pagi jam 07.00 – 12.00 Wita.

Membicarakan tren kacamata di tahun 2026, Pianto menyebut kacamata berbingkai hitam lonjong mirip bentuk telur tengah digandrungi anak muda hingga kalangan tua.

Meski begitu, ia menekankan dalam urusan kacamata, kecocokan bentuk wajah tetap menjadi pertimbangan utama pembeli dibanding sekadar mengikuti tren pasar.

Koleksi kacamata di tokonya dibanderol sangat bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp250.000 untuk model paling mahal. Dari perputaran barang tersebut, Pianto mampu mengantongi omzet rata-rata sekitar Rp10 juta per bulan.

Meski begitu, bisnis ini menyimpan risiko cukup tinggi. Pianto membeberkan bahwa tantangan terbesar jualan kacamata terletak pada perawatan barang yang ekstra ketat.

“Kacamata ini perawatannya harus ekstra. Kalau lensanya lecet sedikit saja sudah tidak bisa dijual harga normal, harganya langsung anjlok drastis. Pembeli tentu tidak mau ada goresan. Sementara dari agen juga tidak bisa diretur karena risiko mereka juga besar,” ungkapnya.

Tantangan makin bertambah saat harga modal dari agen merangkak naik imbas kondisi ekonomi terkini. Kenaikan pasokan berkisar dari Rp1.000, Rp2.000, hingga Rp10.000 per unit. Kendati demikian, Pianto memilih tidak terburu-buru menaikkan harga jual ke konsumen demi menjaga kepuasan langganan.

“Kalau harga jual belum kami naikkan, masih bertahan di harga lama. Kita paham kondisi ekonomi masyarakat sedang lesu. Sebagian besar pembeli di sini langganan, jadi tidak enak kalau langsung dinaikkan. Efeknya memang ke margin keuntungan kita yang berkurang,” terangnya.

Meski bertahan dengan harga lama, Pianto tetap memantau pergerakan harga pasar. Jika tren kenaikan dari agen terus berlangsung dalam jangka panjang, opsi penyesuaian harga jual terpaksa akan diambil.

Kehadiran toko kacamata milik Pianto di Pasar Mangkurawang pun memberikan kemudahan bagi warga sekitar. Lusi, salah satu pembeli setia, mengaku sangat terbantu dengan kelengkapan barang di pasar tradisional tersebut.

“Saya sering belanja aksesoris dan kacamata di sini. Sangat membantu dan praktis, jadi tidak perlu jauh-jauh repot belanja ke toko lain kalau di Pasar Mangkurawang sudah ada,” tutup Lusi. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *