KUKAR, LINGKARKALTIM: Petani hortikultura di Kelurahan Jahab, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara mengeluhkan kekurangan air, untuk lahan pertanian.
Pasalnya, petani di Jahab ini untuk sistem pengairannya hanya mengandalkan tadah hujan dan aliran parit di sekitar lahan pertanian.
Petani Hortikultura Jamaluddin mengatakan, kekurangan air ini dapat menimbulkan gagal panen pada tanaman yang telah ditanam.
Ia mengaku, kekurangan pasokan air untuk lahan pertanian telah dirasakan sejak Mei 2026 hingga saat ini.
“Saya hanya bisa pasrah, jika memasuki musim kemarau,” kata Jamaluddin pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Senin (3/8/2026).
Untuk menyikapi persoalan tersebut, pihaknya rela menimba air di danau atau gubangan kecil dengan jarak sekitar 1 Km dari lokasi lahan pertanian.
“Tindakan ini harus dilakukan, untuk menghindari risiko gagal panen,” ucapnya.
Ia menegaskan, tanaman yang siap dipanen saat ini diantaranya cabai tiung, cabai keriting, daun jeruk, tomat, terong, serai dan lainnya.
“Lahan yang digarap untuk pertanian hortikultura sekitar 3 hektare,” tegasnya.
Dirinya berharap kepada pemerintah daerah, untuk dapat mencarikan solusi terhadap kondisi cuaca kemarau ini. Dipastikan banyak petani yang membutuhkan bantuan air, untuk mengairi lahan pertaniannya.
“Kami berharap adanya bantuan tandon atau kolam terpal, untuk menampung air dan dapat digunakan ketika musim kemarau,” harapnya.
Menanggapi hal itu Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar Muhammad Rifani menjelaskan, kelompok pertanian silahkan mengajukan permohonan bantuan, untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertaniannya.
“Kami akan membantu dengan sistem mesin pompanisasi, agar lahan pertanian tersebut tak kekurangan kebutuhan air,” jelas Muhammad Rifani.
Selain itu, pihaknya juga akan berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau Dinas Pemadam Kebakaran, untuk membantu kebutuhan air petani.
“Selama ini sudah ada beberapa laporan terkait lahan pertaniannya yang kekurangan air diantaranya, Kecamatan Loa Kulu, Loa Janan dan lainnya,” pungkasnya. (Kik)










