KUKAR, LINGKARKALTIM: Perbaikan infrastruktur jalan di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menunjukkan perkembangan. Meski pengerjaannya dilakukan secara bertahap, pemerintah daerah (Pemkab) terus berupaya meningkatkan kualitas akses jalan agar mobilitas masyarakat semakin lancar.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menyebut sejumlah ruas jalan yang mulai mendapat perhatian, di antaranya di Kecamatan Anggana dan Muara Badak. Selain itu, jalan poros Sebelimbingan juga telah disemenisasi dan sebagian jalan masuk dalam rencana prioritas pembangunan tahun depan.
Namun, ada satu ruas jalan yang secara khusus menjadi perhatian, yakni jalan di Kecamatan Muara Kaman, tepatnya akses yang melintasi Desa Benua Puhun. Jalan tersebut dinilai penting karena menjadi penghubung sejumlah desa dan memiliki jarak tempuh lebih singkat menuju pusat pemerintahan maupun fasilitas kesehatan.
“Ya syukurlah, walaupun masih dipotong-potong, tidak apa-apa. Masyarakat tidak perlu tahu prosesnya bagaimana. Yang jelas, ujungnya jalan itu baik. Itu saja,” ucap Rendi, Sabtu (31/10/2026).
Ia menegaskan, jalan yang melintasi Desa Benua Puhun harus menjadi salah satu prioritas utama pada 2027. Bahkan, dirinya berkomitmen mengawal langsung rencana perbaikan tersebut agar tidak kembali terlewat dalam agenda pembangunan.
“Jalan yang sering dibahas, tetapi tidak pernah disentuh, tempatnya di Kecamatan Muara Kaman, Desa Benua Puhun. Itu menjadi perdebatan juga dan seharusnya menjadi prioritas utama tahun depan,” tegasnya.
Kondisi jalan tersebut memang masih membutuhkan perhatian serius. Camat Muara Kaman, Nadi Baswan, menjelaskan, sebagian besar akses jalan masih berupa tanah dan batu, tanpa pengerasan yang memadai.
Panjang ruas jalan itu diperkirakan lebih dari 20 kilometer. Jalurnya tidak hanya melintasi Desa Benua Puhun, tetapi juga menjadi akses bagi masyarakat dari lima desa, yakni Muara Kaman Ulu, Muara Kaman Ilir, Rantau Hempang, Benua Puhun, dan Teratak. Bahkan, akses menuju Desa Lekaq Kidau juga melewati jalur tersebut.
“Untuk kondisinya masih jalan tanah dan batu. Panjangnya sekitar 20 kilometer lebih. Itu menghubungkan beberapa desa, bukan hanya Benua Puhun saja,” ungkap Nadi.
Selama ini, upaya perbaikan dilakukan secara terbatas melalui kerja sama dengan perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut. Namun, pengerasan jalan secara menyeluruh belum terlaksana.
Kondisi ini cukup menyulitkan masyarakat, terutama ketika musim hujan tiba. Padahal, jalur tersebut menjadi salah satu akses tercepat bagi warga Muara Kaman menuju Tenggarong.
Menurut Nadi, jika kondisi jalan sudah baik, perjalanan menuju Tenggarong dapat ditempuh sekitar 45 menit hingga satu jam. Sementara saat ini, masyarakat membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk melewati jalur tersebut.
“Jalan ini termasuk yang paling cepat untuk kita ke Kota Tenggarong. Kalau jalannya baik, paling bisa sekitar 45 menit atau satu jam. Untuk saat ini saja, satu jam setengah baru tembus ke Tenggarong,” jelasnya.
Selama ini, masyarakat memang memiliki jalur alternatif menuju Tenggarong, di antaranya melalui Kota Bangun atau menyeberang di kawasan Serbaya. Namun, rute tersebut dinilai lebih jauh dibandingkan akses Benua Puhun.
Nadi menyebut, usulan perbaikan jalan tersebut sebenarnya sudah berulang kali disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), bahkan sejak beberapa tahun sebelum dirinya menjabat sebagai camat. Namun, hingga kini belum terealisasi.
Karena itu, pihak kecamatan menyambut baik komitmen Wakil Bupati Kukar yang mendorong ruas jalan tersebut masuk prioritas pembangunan tahun depan.
“Kalau saya sangat berharap jalan ini semaksimal mungkin bisa terlaksana. Kalau memang belum bisa disemen, paling tidak dilakukan pengerasan yang lebih maksimal,” harapnya.
Ia menilai, peningkatan kualitas jalan tidak hanya mempermudah mobilitas warga, tetapi juga mempercepat akses menuju fasilitas kesehatan serta mendukung aktivitas perekonomian masyarakat di lima desa yang terhubung melalui jalur tersebut. (Adv/dil)










