KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan komitmennya dalam pengembangan tanaman hortikultura, khususnya cabai. Komoditas ini dinilai strategis karena termasuk salah satu penyumbang inflasi dan berperan penting dalam ketahanan pangan daerah.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Distanak Kukar, Taufik, menegaskan bahwa meskipun sebagian pasokan cabai di Kukar masih dipengaruhi produk dari luar daerah, pengembangan cabai lokal terus dilakukan secara berkelanjutan.
“Kita tetap berupaya mengembangkan cabai, karena komoditas ini sangat rentan terhadap inflasi. Jadi tanam cabai harus terus kita lakukan,” ujarnya pada Sabtu (13/9/2025).
Ia menjelaskan, sama halnya dengan beras, Kukar memiliki peran besar dalam mendukung ketersediaan pangan di Kalimantan Timur. Untuk cabai, meskipun sebagian pasokan datang dari Sulawesi dan Banjarmasin, Kukar tetap berkomitmen memperkuat produksi lokal agar kebutuhan masyarakat lebih banyak terpenuhi dari hasil daerah sendiri.
Dalam mendukung program tersebut, Distanak Kukar memberikan berbagai bantuan sarana produksi kepada petani, mulai dari benih, pupuk, hingga polybag siap tanam.
“Tahun lalu kita jalankan gerakan tanam cabai. Kita berikan bantuan cabai dalam polybag yang sudah berisi tanaman. Itu langsung kita serahkan ke kelompok tani dan mereka yang merawat hingga menghasilkan,” jelas Taufik.
Menurutnya, strategi ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketersediaan cabai di pasar, tetapi juga mendekatkan akses masyarakat terhadap bahan pangan strategis. Dampaknya, gerakan tanam cabai turut membantu menekan laju inflasi sekaligus mendukung penanganan stunting.
Namun, Taufik mengakui adanya keterbatasan anggaran. Tahun ini terjadi efisiensi sehingga volume bantuan sarana produksi mengalami pengurangan. Meski begitu, Distanak Kukar memastikan program tetap berjalan dengan fokus pada prioritas yang lebih mendesak.
“Kita sadar ada keterbatasan, tapi justru itu membuat kita lebih selektif dalam menyalurkan bantuan. Program yang benar-benar prioritas tetap kita jalankan agar dampaknya lebih terasa, termasuk pengembangan cabai ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, gerakan tanam cabai yang melibatkan kelompok tani bukan hanya memperkuat ketahanan pangan, melainkan juga menjadi solusi jangka panjang dalam mengendalikan harga di pasaran. Dengan begitu, masyarakat tidak terlalu bergantung pada pasokan luar daerah.
“Cabai ini sensitif sekali terhadap harga. Kalau pasokan kurang, harga naik dan langsung memicu inflasi. Karena itu kami berkomitmen cabai harus terus dikembangkan,” tegas Taufik.
Dengan berbagai langkah ini, Distanak Kukar optimistis produksi cabai lokal bisa terus meningkat dari tahun ke tahun. Harapannya, Kukar tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga memberikan kontribusi lebih besar bagi ketersediaan pangan di Kalimantan Timur. (WAN/ADV)










