Pengrajin Keluhkan Penurunan Omzet Drastis Akibat Ekonomi Lesu

Accesoris Khas Dayak yang dijual di toko Ovi Galery, Dekranasda, Jalan Pattimura, Tenggarong, Jumat (12/6/26). (Dilla/Lingkarkaltim)
Accesoris Khas Dayak yang dijual di toko Ovi Galery, Dekranasda, Jalan Pattimura, Tenggarong, Jumat (12/6/26). (Dilla/Lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Kondisi memprihatinkan melanda para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menempati lapak Dekranasda Kutai Kartanegara (Kukar).

Di tengah fasilitas gratis yang diberikan pemerintah, para pengrajin lokal kini harus berjuang keras menghadapi hantaman penurunan omzet yang terjadi secara drastis dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut terpantau langsung di area pertokoan Dekranasda, tepat di belakang Museum Mulawarman, Tenggarong, pada Jumat (12/6/2026).

Read More
banner 300x250

Salah satu pelaku usaha, Etiovia, selaku pemilik Ovi Galery, membeberkan fakta mengejutkan mengenai penurunan pendapatan usahanya. Pengrajin yang sudah lima tahun mendiami lapak tersebut mengaku bahwa daya beli masyarakat sedang berada di titik terendah.

“Kalau tahun-tahun kemarin, kami bisa menghasilkan sampai Rp50 juta per bulan. Tapi sekarang, ekonomi sedang lesu sekali. Terakhir ini omzet kami merosot tajam, sebulan hanya dapat Rp18 juta, bahkan sempat menyusut ke angka Rp12 juta, Rp9 juta, hingga Rp8 juta per bulan,” ungkap Etiovia saat diwawancarai di lapaknya, Jumat (12/6/2026).

Selain masalah sepinya pembeli, peristiwa kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku di pasaran turut memperkeruh situasi di lantai produksi. Etiovia yang fokus memproduksi tas kayu unik, mengaku mulai kesulitan mencari material pendukung serta kayu jati berkualitas.

Untuk mengatasinya, dirinya terpaksa memanfaatkan sisa-sisa kayu dari mebel milik rekannya demi menekan biaya. Namun, kenaikan harga komoditas lain seperti bahan pengemas (packing) tetap tidak bisa dihindari.

“Sangat berdampak karena semua harga bahan baku naik. Tapi sejauh ini kami masih mencoba bertahan dan mengikuti harga pasar agar barang tetap keluar,” jelasnya.

Meski demikian, Etiovia tetap bersyukur karena adanya kebijakan pemerintah daerah yang membebaskan biaya sewa lapak di Dekranasda. Langkah ini dinilai sangat membantu perekonomian keluarganya di tengah situasi sulit.

Di lapak berukuran minimalis tersebut, ia menjajakan berbagai kerajinan mulai dari gelang murah, syal, dompet, baju adat, hingga sandal batu permata premium seharga Rp15 juta. Berdasarkan pantauan, mayoritas konsumen termasuk wisatawan mancanegara tetap lebih memilih bertransaksi langsung di lokasi ketimbang lewat toko daring karena ingin melihat langsung kualitas fisik barang.

Merespons situasi terkini di kompleks Dekranasda, Pemerintah Kabupaten (Pmekab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) langsung memberikan tanggapan.

Plt. Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah, menyebut pemerintah daerah sengaja memusatkan para pengrajin di Jalan Pattimura pertokoan Dekranasda dan kawasan Museum Mulawarman agar menjadi magnet bagi para wisatawan yang datang ke Kukar.

“Dekranasda ini memang kami fasilitasi khusus untuk para UMKM dan pengrajin secara gratis, agar para wisatawan yang berkunjung bisa langsung mengakses produk lokal kita dengan mudah,” ujar Sayid pada Jumat (12/6/2026).

Terkait laporan keluhan, Sayid mengaku pihak dinas sejauh ini belum menerima keluhan tertulis secara formal dari para penghuni lapak mengenai fasilitas tempat. Namun, pihak Disperindag mengimbau para pengrajin untuk tidak pasif dan mulai mengombinasikan strategi penjualan mereka demi menghadapi perubahan pasar.

“Kami belum menerima keluhan selama ini. Namun, kami melihat selain memanfaatkan lapak fisik yang ada, para pengrajin memang harus mulai bergerak dan bermain di pasar online. Jadi, penjualan tidak boleh semata-mata hanya bertumpu pada toko di tempat,” tutup Sayid. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *