KUKAR, LINGKARKALTIM: Dalam upaya mendukung ketahanan pangan dan pengamanan produksi pertanian di musim kemarau, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memacu pembangunan embung skala kecil sebagai infrastruktur pendukung irigasi lahan pertanian.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Sapras) Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan pembangunan 100 unit embung skala kecil sepanjang tahun 2022 hingga 2026. Hingga akhir 2024, capaian tersebut telah terealisasi sebanyak 65 unit.
“Target awal kita sejak 2022 sampai 2026 itu 100 unit embung. Sampai tahun lalu kita sudah mencapai sekitar 65 unit. Ini embung skala kecil, tapi sangat vital untuk suplai air pertanian saat musim kemarau,” jelas Rifani, Selasa (5/8/2025).
Embung yang dibangun memiliki kapasitas untuk melayani lahan seluas 10 hingga 15 hektare, terutama di wilayah yang mengalami defisit air saat kemarau. Infrastruktur ini dinilai strategis karena mendukung peningkatan produksi dan menjaga kontinuitas tanam di lahan sawah tadah hujan.
Namun, ia mengakui bahwa tantangan utama dalam pembangunan embung bukan hanya soal teknis, melainkan juga legalitas lahan. Beberapa lokasi pembangunan terkendala kepemilikan lahan yang harus dibebaskan atau melalui mekanisme pinjam pakai.
“Kalau mau bangun embung itu minimal butuh lahan 50 x 50 meter. Tantangannya di situ, karena kadang menyangkut lahan produktif milik warga. Tapi alhamdulillah di beberapa lokasi, kelompok tani sudah bisa sepakat untuk pelepasan atau pinjam pakai,” jelasnya.
Selain legalitas, faktor cuaca juga menjadi tantangan tersendiri. Pada saat musim hujan atau kondisi ekstrem, pembangunan fisik embung kerap tertunda karena akses yang sulit atau struktur tanah yang tidak stabil.
Rifani juga menegaskan bahwa setiap permohonan dari desa atau kelompok tani tetap harus melalui proses verifikasi teknis. Pihaknya memiliki sistem filter untuk memastikan pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan.
“Permohonan dari desa kita verifikasi dulu secara teknis. Kalau memang sesuai, baru kita jalankan. Jadi tidak semua langsung kita bangun, tetap melalui kajian lapangan agar tepat sasaran,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa embung tidak hanya bermanfaat bagi irigasi lahan, tetapi juga mendukung keberlangsungan program ketahanan pangan daerah. Distanak Kukar fokus pada penyediaan infrastrukturnya, sementara pengelolaan teknis dilakukan bersama kelompok tani.
“Ketahanan pangan itu tidak bisa jalan sendiri. Kita siapkan infrastrukturnya, lalu kerjasama dengan masyarakat untuk pengelolaannya. Di sinilah pentingnya sinergi antara pemerintah dan kelompok tani,” tandas Rifani.
Dengan capaian yang terus meningkat dan pendekatan kolaboratif, Distanak Kukar optimistis target 100 unit embung hingga 2026 bisa direalisasikan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal yang berkelanjutan.(IDN/ADV)










