KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) terus memperkuat akses pertanian melalui pembangunan jalan usaha tani (JUT). Hingga 2024, realisasi pembangunan telah mencapai 117 kilometer, melampaui target awal 100 km yang direncanakan untuk periode 2022–2026.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Distanak Kukar, Muhammad Rifani, menjelaskan bahwa pendekatan pembangunan JUT kini dilakukan secara terintegrasi berdasarkan kajian spasial, bukan lagi sekadar merespons permohonan kelompok tani secara sporadis.
“Kalau dulu berdasarkan permohonan spot-spot, sekarang kita lakukan analisis spasial. Jadi jalan yang dibangun tidak terputus, tapi saling menyambung antar kawasan,” ujar Rifani pada Selasa (5/8/2025).
Salah satu contoh integrasi jalan usaha tani terjadi di kawasan Muara Kaman hingga Sebulu, di mana akses pertanian dibangun hingga 37 km, menyambungkan kawasan dari Panca Jaya, Sido Mulyo, Cipari Makmur hingga ke Sumber Sari, Mekar Jaya, dan Manunggal Jaya. Kawasan ini melayani hamparan pertanian seluas lebih dari 2.000 hektare.
“Jadi sekarang kita bicara kawasan, bukan kelompok. Jalan yang dibangun harus menyambungkan kawasan pertanian agar efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Rifani menuturkan bahwa pembangunan jalan juga bersinergi dengan program lintas sektoral seperti karya bakti TNI dan TMMD, salah satunya di wilayah Rapak Lambur, Maluhu, dan Panji. Upaya ini mempercepat konektivitas sekaligus efisiensi penggunaan anggaran.
Terkait permohonan masyarakat untuk pembangunan jalan usaha tani, Rifani mengatakan bahwa pengajuan tetap dibuka, namun harus disertai dengan koordinat lokasi. Hal ini penting agar tim teknis bisa menganalisis kesesuaian lokasi secara spasial.
“Silakan ajukan permohonan. Tapi sekarang harus disertai koordinat. Supaya nanti saat dianalisis tidak membangun jalan yang terputus dari jaringan yang sudah ada,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk turut menjaga hasil pembangunan. Jalan usaha tani memiliki kelas jalan yang lebih ringan dibanding jalan umum, sehingga tidak boleh dilalui kendaraan berat seperti truk angkutan batu bara atau sawit.
“Kalau untuk mobil kecil atau pickup boleh, karena itu mendukung kegiatan pertanian. Tapi kalau truk berat masuk, kasihan jalan kita cepat rusak. Ini perlu kesadaran bersama,” tegas Rifani.
Dengan pembangunan jalan usaha tani yang lebih terencana dan terintegrasi, Distanak Kukar berharap konektivitas antar kawasan pertanian makin kuat, efisiensi distribusi hasil panen meningkat, serta kesejahteraan petani bisa terus terdorong.(IDN/ADV)










