KUKAR, LINGKARKALTIM: Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kutai Kartanegara (Kukar) berkomitmen akan memaksimalkan pemanfaatan anggaran sebesar Rp200 juta apabila benar-benar direalisasikan oleh pemerintah daerah.
Anggaran tersebut direncanakan akan difokuskan pada kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat.
Ketua KNPI Kukar, Rian Tri Saputra mengatakan pihaknya ingin memastikan setiap program yang dijalankan memiliki dampak nyata, khususnya bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Kami akan coba maksimalkan. Mungkin kami adakan kegiatan seperti sunatan massal untuk kaum duafa atau bakti sosial. Itu lebih terasa manfaatnya bagi masyarakat daripada kegiatan yang tidak bersentuhan langsung,” ucap dia, Kamis (23/4/2026).
Ia menegaskan bahwa angka Rp200 juta tersebut masih sebatas rencana di atas kertas dan belum memiliki kepastian.
Dia juga tidak menutup kemungkinan anggaran tersebut terdampak kebijakan efisiensi.
“Ini masih belum pasti. Apakah benar Rp200 juta atau justru terkena efisiensi, kita belum tahu. Kalau memang harus dipangkas, ya tidak masalah. Mungkin memang belum rezekinya KNPI tahun ini,” kata Rian.
Meski menghadapi ketidakpastian anggaran, KNPI Kukar memastikan kegiatan kepemudaan tetap berjalan.
Dia mencontohkan sejumlah program yang saat ini telah berjalan secara mandiri tanpa bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
“Saat ini kami punya program kursus bahasa Inggris gratis, seminggu tiga kali di gedung KNPI. Pesertanya sudah ratusan dan tidak dipungut biaya,” ungkapnya.
Selain itu, fasilitas KNPI Kukar juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial lainnya, termasuk mendukung pendidikan bagi penyandang disabilitas.
“Gedung sebelah kami gunakan bersama untuk sekolah anak luar biasa. Artinya, tanpa anggaran pun kami tetap bergerak,” jelas dia.
Meski demikian, ia mengakui adanya rasa ketidakadilan ketika organisasi kepemudaan tidak mendapatkan dukungan anggaran yang setara, sementara pihak lain memperoleh alokasi lebih besar.
KNPI Kukar berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian yang lebih proporsional terhadap sektor kepemudaan, mengingat perannya yang strategis dalam pembinaan generasi muda dan pembangunan.
“Kami tidak cengeng, tetap berkegiatan. Tapi tentu kami merasa marah ketika yang lain mendapatkan anggaran kenapa kami tidak. Sementara kita sama-sama mitra strategis pemerintah,” tutup Rian. (ASR)










