KUKAR, LINGKARKALTIM: Kehadiran toko modern di Kutai Kartanegara (Kukar) bukan hanya menjadi indikator pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Plt. Kepala Disperindag Kukar, Sayid Fathullah, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah memastikan ruang khusus di toko-toko modern untuk produk lokal.
Menurutnya, berdasarkan perjanjian kerja sama antara pemerintah daerah dan ritel modern, sedikitnya 25 persen space disediakan untuk produk UMKM dan IKM Kukar.
Kebijakan ini menjadi pintu masuk bagi produk lokal untuk bersaing dengan merek nasional.
“Memang kita mendorong agar produk IKM dan UMKM kita bisa masuk. Dan mereka (ritel modern) sudah menyediakaN space 25 persen untuk itu,” jelas dia, Senin (1/12/2025).
Meski ruang sudah tersedia, tidak semua pelaku usaha kecil dapat langsung memanfaatkan kesempatan tersebut.
Penempatan produk tetap harus mengikuti standar operasional toko modern, terutama terkait perizinan pangan.
“Harus ada PIRT minimal. Mereka memang sudah menurunkan syaratnya, tidak harus BPOM, PIRT saja sudah cukup. Halal juga diwajibkan karena sekarang prosesnya sangat mudah,” kata Fathullah.
Kewajiban sertifikasi halal, lanjut dia, sejalan dengan kampanye nasional mengenai jaminan makanan halal, sekaligus meningkatkan keamanan dan kepercayaan konsumen terhadap produk lokal.
Meski peluang terbuka, ia mengakui hanya sebagian kecil UMKM yang bisa bertahan dalam pola bisnis toko modern. Bukan karena kualitas produk, melainkan karena persoalan modal terbatas.
Fathullah menjelaskan bahwa toko modern umumnya menerapkan sistem pembayaran mundur (invoice), di mana pelaku UMKM baru menerima pelunasan sekitar satu bulan setelah barang masuk.
“Namanya UMKM kan modalnya kecil. Mereka harus memutar modal untuk produksi lagi. Kalau harus menunggu satu bulan dibayarkan, tidak semua bisa bertahan,” tegasnya.
Meskipun tantangan finansial cukup berat, Fathullah menyebut bahwa sudah ada pelaku UMKM Kukar yang berhasil menembus pasar ritel modern.
“Di toko modern ada produk-produk lokal kita yang berani. Mereka sudah bisa masuk, artinya peluang itu ada dan sudah dimanfaatkan,” pungkas dia. (ADV/ASR)










