SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Pengusaha jalan tol yang kini mengemban amanah baru sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Mohammad Jusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun, melakukan kunjungan kerja sekaligus aksi sosial di Samarinda, Selasa (3/11/2026). Mengawali agendanya, sosok yang dikenal lewat jargon “Nasi Kuning Rp3.000” ini menyempatkan diri santap siang di Restoran Sari Bhoga, Jalan Kemakmuran.
Suasana makan siang berlangsung hangat. Khas dengan julukannya sebagai “Bos Tol Murah Hati”, figur yang memegang teguh filosofi “Kaya Harta, Lebih Kaya Hati” ini tampak menikmati hidangannya dengan sangat lahap bersama rombongan sembari menyapa warga sekitar.
Dikenal luas sebagai “Filantropis Grassroots” yang konsisten membaur tanpa jarak, agenda Babah Alun di Kota Tepian kali ini difokuskan pada sederet aksi kepedulian sosial untuk masyarakat kelas bawah. Salah satu agenda utamanya adalah mendatangi langsung keluarga korban bayi meninggal akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Palaran.
Tak berhenti di situ, Babah Alun juga menjadwalkan peninjauan langsung ke sejumlah pasar tradisional pada esok hari. Selain Pasar Segiri dan Pasar Merdeka, target utamanya adalah menyisir Pasar Ijabah di Jalan Pangeran Antasari yang dikenal sebagai salah satu titik pasar kumuh di Samarinda, serta kawasan tempat pelelangan ikan di Selili.
Ia menegaskan uluran tangan dan perhatian sosial harus menjangkau seluruh elemen pekerja sektor informal.
“Kita harus bantu nelayan juga, jangan ojol-ojol saja. Nelayan, petani semua harus dibantu,” tegasnya penuh semangat di tengah riuhnya suasana usai makan siang.
Di sela-sela aksi sosialnya, Babah Alun juga menyempatkan diri bertakziah ke rumah duka sahabat masa kecilnya, almarhum Agus Sulistyo, sosok yang pernah membantunya saat berjuang di Samarinda puluhan tahun silam.
Mengakhiri perbincangannya, Babah Alun menyisipkan pesan pembakar semangat bagi generasi muda Samarinda agar terus berjuang dan berkarya tanpa perlu berkecil hati dengan latar belakang daerah.
“Anak muda Samarinda, jangan selalu bercinta, tetapi harus berkarya! Rezeki anak saleh, kalau Allah sudah berkehendak, kun fayakun, pasti jadi. Walaupun dari tempat terisolasi seperti Melak, atau Long Iram, kalau Allah berkehendak, bisa sukses di Jakarta. Harus percaya kekuasaan Allah itu ada,” pungkasnya sejalan dengan prinsip hidup yang selalu ia pegang: “Banyak Harta Tak Dibawa Mati, Banyak Sedekah Jadi Bekal.” (dev)











