Tangani Karhutla dan Kekeringan, Pemkot Samarinda Pasok Air Bersih hingga Kucurkan OMC

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso.(Dev/Lingkarkaltim)
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso.(Dev/Lingkarkaltim)
banner 468x60

SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengintensifkan penanganan bencana tanggap darurat kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah mitigasi tersebut berfokus pada pemulihan krisis air bersih warga, penyelamatan lahan pertanian, pemantauan kualitas udara, hingga penegakan hukum bagi pelaku pembakaran lahan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso membeberkan bahwa penyaluran air bersih kini telah menjangkau 180 titik lokasi terdampak dengan total volume air terdistribusi mencapai 880.100 liter.

Read More
banner 300x250

“Penanganan tanggap darurat kekeringan ini tidak hanya sekadar menangani kebakaran saja, tetapi juga penanganan terhadap distribusi air bersih karena beberapa IPA PDAM Tirta Kencana belum bisa  berproduksi penuh 24 jam,” ujar Suwarso, Selasa (15/9/2026).

Guna mempercepat distribusi di wilayah dengan antrean panjang, Pemkot Samarinda menyiapkan pengadaan 20 unit tandon tambahan yang dipasang di atas 10 unit truk jungkit milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda.

Selain penyaluran air bersih untuk rumah tangga, Pemkot Samarinda juga mengantisipasi ancaman gagal tanam pada 654 hektare lahan sawah milik warga. Sebagai solusi, air dari lubang bekas tambang batu bara (void) yang telah dinyatakan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda dimanfaatkan untuk menyuplai 207 hektare sawah di kawasan Makroman, Serayu, Bukuan dan Bantuas.

Suwarso menambahkan, akumulasi kejadian karhutla hingga saat ini telah menembus 185 kasus dengan total luas area terbakar mencapai 382,93 hektare. Area kebakaran terluas berada di Palaran seluas 149 hektare, Sambutan 125 hektare, dan Samarinda Utara 61 hektare.

Guna menekan eskalasi kebakaran dan memicu hujan buatan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) resmi dijalankan pada 15 hingga 19 September 2026 berkolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sebanyak 60 ton garam beserta armada pesawat jenis Cessna disiagakan di Bandara Aji Pengeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda.

“Berdasarkan arahan pusat, sekecil apa pun potensi awan hujan akan langsung disemai melalui operasi modifikasi cuaca ini,” pungkas Suwarso.(dev)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *