Kasus Stunting Kukar Turun

Data stunting di Kukar, Jum'at (11/9/2026). (Dok.Dinkes Kukar)
Data stunting di Kukar, Jum'at (11/9/2026). (Dok.Dinkes Kukar)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM : Kasus stunting di Kabupaten Kutai Kartanegara mencapai sekitar 14,3 persen pada 2024 dan turun di 2025 jadi 12,6 persen. Hal ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah daerah, untuk dapat ditangani dengan tepat.

Angka stunting tertinggi berada di Kecamatan Muara Wis, Muara Muntai, Muara Jawa, Kembang Janggut dan lainnya.

Read More
banner 300x250

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Ismi Muffidah mengatakan, stunting di Kukar ini terus mengalami penurunan. Hal itu dibuktikan dengan perolehan data stunting pada 2016 sekitar 37,1 persen.

Kemudian, stunting 2017 turun menjadi 30,9 persen, pada 2018 mengalami kenaikan menjadi 32,3 persen. Pada 2021 mengalami penurunan menjadi 26,4 persen, pada 2022 mengalami peningkatan 27,1 persen. Dan 2023 turun kembali menjadi 17,6 persen hingga 2024 menjadi 14,3 persen, dan pada 2025 mengalami penurunan jadi 12,6 persen.

“Langkah yang kita ambil dalam mengatasi stunting sudah tepat, itu telah dibuktikan dengan adanya penurunan kasus stunting,” kata Ismi Muffidah pada Lingkarkaltim, di Tenggarong, Jum’at (11/9/2026).

Ia mengaku, wilayah geografis Kutai Kartanegara yang luas menjadi tantangan utama, dalam pemerataan layanan spesialis anak, terutama bagi balita stunting di daerah terpencil.

“Kutai Kartanegara memiliki wilayah yang sangat luas, dengan banyak desa terpencil yang sulit dijangkau,” akunya.

Jarak jauh ke fasilitas kesehatan membuat balita stunting tidak mendapat penanganan tepat waktu, dari dokter spesialis anak.

Keterlambatan deteksi dan intervensi menyebabkan kondisi stunting semakin parah. Tanpa akses langsung ke Spesialis anak, balita tidak mendapat terapi gizi, pemeriksaan klinis, dan edukasi keluarga yang dibutuhkan untuk pemulihan optimal.

Sehingga pemerintah daerah mengambil langkah melalui program Sahabat Anak, Pelayanan Ahli Spesialis Anak Kawasan Komunitas dan Akses Terpencil (SAPA SI KAKA).

Sementara itu Ketua Tim Kerja Peningkatan Gizi Keluarga dan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Serianti menyebutkan, program atau inovasi SAPA SI KAKA ini bagian dari layanan  Dokter Spesialis Anak di puskesmas dan daerah terpencil, untuk penanganan stunting.

“Tujuan inovasi itu meningkatkan akses dan mutu layanan dokter spesialis anak, langsung di layanan primer wilayah sulit dijangkau, untuk percepatan penanganan stunting,” sebut Serianti.

Dirinya berharap, dengan inivasi tersebut kasus stunting di Kukar bisa ditekan bahkan nihil. Karena stunting ini mempengaruhi tumbuh kembang anak. (riz)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *