SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) terus mendorong peningkatan kompetensi desainer muda lokal melalui penguasaan teknologi rancang busana digital.
Langkah ini diambil untuk memperkuat karakter wastra khas daerah agar mampu bersaing di pasar fashion modern.
Jabatan Fungsional (Jafung) Pembina Industri Ahli Pertama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DPPKUKM) Kaltim M Fandi Saputra menegaskan bahwa pengembangan bakat generasi muda menjadi fokus utama dalam menjaga keberlanjutan industri kreatif berbasis budaya lokal.
“Kegiatan pelatihan tahunan Dekranas tahun ini berfokus kepada desain fashion terutama untuk Gen Z, yaitu anak-anak fresh graduate yang punya kemauan, bakat, dan daya tarik terhadap fashion terutama wastra di Kalimantan Timur. Semoga ini jadi tempat pembelajaran dan ruang portofolio buat mereka memperluas jaringan,” ujar Fandi, Kamis (17/9/2026) disela-sela kegiatan pengembangan kreativitas Desain Fashion Berbasis Wastra Kaltim.
Program peningkatan kapasitas ini diselenggarakan oleh DPPKUKM Kaltim bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kaltim. Pelatihan tersebut melibatkan 20 peserta berusia 18 tahun ke atas yang merupakan lulusan vokasi kejuruan Tata Busana dari Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Timur.
Tuntas memaparkan fokus program daerah, penguatan teknis pembuatan karya serta pemanfaatan teknologi digital dibeberkan oleh pihak instruktur pelatihan.
Instruktur sekaligus Anggota Bidang Daya Saing Dekranasda Kaltim, Anas Maghfur menjelaskan bahwa peralihan dari metode menggambar manual ke digital memberikan efisiensi waktu yang signifikan, terutama saat merespons permintaan pasar.
“Saat ini perbandingan digital dengan manual itu sangat jauh. Kalau manual bisa satu semester karena gambar mata atau muka itu lama. Tapi begitu kena digital, satu hari mereka sudah bisa. Ketika berhadapan dengan customer dan ada revisi, dalam waktu lima menit sudah selesai beserta motif dan ganti warna,” kata Anas.
Seluruh hasil rancangan busana berbasis digital yang dihasilkan oleh para peserta dalam kurun waktu dua minggu ke depan ini diproyeksikan untuk tampil dalam panggung peragaan busana bergengsi.
“Hasil karya dari pelatihan ini nantinya ditampilkan di event Borneo International Fashion Festival. Kami memilih anak-anak yang masih konsisten di bidang fashion dan punya usaha agar mereka termotivasi untuk tampil di event yang berskala lebih besar,” pungkas Anas. (dev)










