KUKAR, LINGKARKALTIM: Olahraga tradisional kembali menjadi bagian dari rangkaian Festival Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Tahun ini, sejumlah cabang olahraga tradisional akan dipertandingkan dengan pusat kegiatan di halaman parkir Pulau Kumala, Tenggarong.
Kegiatan tersebut dijadwalkan mulai 21 September 2026 dan melibatkan sejumlah induk organisasi olahraga (inorga). Pembukaan olahraga tradisional akan digelar pada 21-27 September 2026 di halaman parkir Pulau Kumala.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kukar, Aji Ali Husni, mengatakan olahraga tradisional tetap diupayakan terlaksana meski pemerintah daerah menghadapi keterbatasan anggaran.
“Insyaallah tahun ini dengan keterbatasan yang ada, kita tetap hadir untuk menyelenggarakan olahraga tradisional dengan bekerja sama dengan beberapa inorga yang ada,” ujar Aji Ali Husni kepada lingkarkaltim.com, Kamis (17/9/2026).
Berdasarkan jadwal yang telah disusun, beberapa cabang yang dipertandingkan antara lain belogo, begasing, menyumpit dan ketapel tradisional.
Untuk cabang belogo, nomor yang dipertandingkan terdiri atas Belogo Kering Perorangan dan Belogo Kering Beregu.
Sementara begasing mempertandingkan beberapa nomor, yakni Gasing Baturai Perorangan, Gasing Bepepal Beregu, Gasing Berajaan Perorangan serta Gasing Beturai Massal.
Kemudian cabang menyumpit terdiri atas nomor 20 meter putra dan 15 meter putri. Sedangkan ketapel tradisional mempertandingkan nomor putra dan putri.
Pelaksanaan masing-masing cabang akan menyesuaikan dengan jadwal yang ditetapkan inorga penyelenggara. Secara umum, pertandingan berlangsung pada 21–26 September 2026, dengan beberapa cabang dijadwalkan hingga 24 September.
Ali mengatakan pemilihan halaman parkir Pulau Kumala sebagai lokasi kegiatan mempertimbangkan akses bagi penonton dan panitia.
“Difokuskan di situ. Akses penonton, kemudian akses panitia dan semua hal itu kita pertimbangkan supaya nanti lebih mudah,” katanya.
Menurut Ali, olahraga tradisional dalam rangkaian Erau tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi para penggiat untuk bertemu, bersilaturahmi dan menguji kemampuan.
Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut tidak hanya berasal dari Kukar, tetapi juga dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.
“Olahraga tradisional itu sangat ditunggu-tunggu para penggiat olahraga. Di luar sana, seperti Bengalon, Kutai Timur, terus Kaltara, mereka itu Erau seperti event paling ditunggu-tunggu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pertandingan juga menjadi momentum bagi para penggiat untuk mengukur kemampuan sekaligus mengevaluasi berbagai inovasi, termasuk dalam pembuatan dan pemilihan bahan gasing.
“Selain silaturahmi yang mereka cari, mereka juga menguji kemampuan dan temuan-temuan mereka dalam membuat gasing, bahan-bahan gasing. Itu menjadi evaluasi mereka semua,” jelas Ali.
Olahraga tradisional sendiri memiliki kontribusi terhadap prestasi olahraga masyarakat Kalimantan Timur di tingkat nasional. Pada Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VII 2025 di Nusa Tenggara Barat (NTB), pegiat atau atlet olahraga tradisional utusan Kukar tercatat menyumbangkan 5 medali emas, 5 perak dan 3 perunggu bagi kontingen Kalimantan Timur.
Sementara itu, Ketua Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kukar, Lukman, membenarkan olahraga tradisional tetap masuk dalam rangkaian Erau 2026.
“Insyaallah ada event olahraga tradisional sesuai jadwal. Untuk olahraga tradisional masih difinalisasi oleh Dispora sesuai ketersediaan anggaran,” kata Lukman.
Ia menegaskan KORMI Kukar siap mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
“KORMI sebagai organisasi yang menaungi olahraga masyarakat, yang di dalamnya ada olahraga tradisional, akan mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan Erau itu sendiri,” tutupnya. (ahk)










