Pemkab Kukar Dukung Rekayasa Cuaca untuk Selamatkan Sawah dari Ancaman Kekeringan

Kepala Distanak Kukar Muhammad Rifani. (M. As'ari/Lingkarkaltim)
Kepala Distanak Kukar Muhammad Rifani. (M. As'ari/Lingkarkaltim)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemkab Kukar mendukung penanganan kekeringan yang mengancam sejumlah kawasan pertanian melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada sejumlah titik yang dinilai membutuhkan tambahan curah hujan.

Pasalnya, sebagian areal persawahan di Kukar memang masih bergantung pada hujan.

Read More
banner 300x250

Ketika kemarau berlangsung panjang, sawah yang tidak memiliki akses terhadap sumber air alternatif menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani mengatakan bahwa di beberapa kawasan, petani tidak memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan selain mengandalkan hujan.

“Memang ada beberapa lokasi, seperti Tenggarong Seberang, yang memang tidak punya sumber air. Dia hanya mengharapkan tadah hujan saja,” ungkap dia, Jumat (21/8/2026).

Kondisi serupa juga ditemukan di kawasan Bukit Biru, Tenggarong. Ia menjelaskan, kawasan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda karena terbagi menjadi wilayah yang masih dapat dijangkau pasang Sungai Mahakam dan wilayah yang berada lebih jauh dari sumber air.

“Bukit Biru itu terbagi dua. Kalau yang bisa dijangkau oleh air pasang Mahakam, itu relatif aman. Nah, ini sudah 78 hektare itu aman. Yang di sebelah hulunya memang tidak ada sumber air, tapi tetap kita upayakan,” jelas Rifani.

Untuk kawasan yang sulit mendapatkan pasokan air tersebut, Pemkab Kukar telah mengirimkan koordinat lokasi tampungan air kepada pihak terkait.

Data tersebut dapat menjadi dasar pelaksanaan OMC. Dia berharap intervensi melalui rekayasa cuaca dapat membantu menambah curah hujan di kawasan pertanian yang mengalami kekeringan.

“Mudah-mudahan itu bisa dipenuhi oleh mereka, maka Bukit Biru dan tempat itu bisa diamankan,” katanya.

Di sisi lain, Satgas Penanganan Kekeringan Kukar juga terus melakukan pemantauan lapangan.

Tim tidak hanya mendata lahan yang terdampak, tetapi sekaligus mencari sumber air terdekat yang memungkinkan dimanfaatkan untuk mengairi persawahan.

Rifani mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan masih terdapat sejumlah titik yang sangat membutuhkan pasokan air.

Beberapa wilayah sudah memiliki sumber air yang dapat dimanfaatkan dengan dukungan pompa.

Salah satunya berada di Kecamatan Marangkayu, tepatnya di kawasan Santan Ulu dan Semangkok.

“Di Marangkayu itu Santan Ulu dan Semangkok, sumber airnya ada. Hanya memang mereka perlu memompa air sungai itu ke lahan sawah,” ungkap dia.

Upaya tersebut kini mulai berjalan. Air dari sungai dipompa menuju areal persawahan sehingga petani tidak sepenuhnya bergantung pada hujan.

“Alhamdulillah untuk Marangkayu sekarang dalam kondisi yang berlangsung untuk proses memasukkan air dari sungai ke badan sawahnya. Jadi ini sudah mulai jalan,” terang Rifani.

Sementara itu, Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri mengatakan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Kaltim untuk menentukan titik yang dapat menjadi lokasi pelaksanaan rekayasa cuaca.

“Memang kemarin laporan dari teman-teman Dinas Pertanian, titik tekan kita sekarang rekayasa cuaca ini berada di titik-titik utamanya yang terkait dengan sektor pertanian. Karena yang dikhawatirkan adalah ketika tidak terjadi hujan dalam waktu dekat,” kata dia.

Ia menyebut, apabila kondisi tersebut berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, tanaman padi di sejumlah kawasan akan semakin rentan.

Maka dari itu, pemerintah daerah tidak ingin hanya menunggu hujan turun secara alami.

“Menurut perkiraan BMKG, hujan itu baru akan terjadi di posisi bulan Oktober. Bulan Oktober baru akan muncul hujan. Jadi ini masih agak panjang kemaraunya,” sebut Aulia.

Berdasarkan pemetaan sementara, sejumlah titik yang menjadi perhatian antara lain Bukit Biru, Semangkok, Sebulu, dan kawasan Tenggarong Seberang.

Dia mengatakan, titik tersebut dipilih berdasarkan kebutuhan sektor pertanian, khususnya hamparan sawah yang membutuhkan tambahan air.

Meski mendorong rekayasa cuaca, Pemkab Kukar tidak menghentikan penanganan langsung di lapangan.

Pihaknya tetap mengupayakan pengaliran air dari sumber-sumber terdekat menggunakan pompa dan selang.

“Kita tetap upaya di lapangan, utamanya di sektor pangan, di sektor pertanian. Kita mengalirkan air-air terdekat dengan bantuan pompa dan selang untuk mengaliri kawasan-kawasan irigasi yang sudah kita bangun,” jelasnya.

Menurutnya, kombinasi antara pengelolaan sumber air, penggunaan pompa, normalisasi saluran, serta rekayasa cuaca sangat penting untuk mempertahankan produksi pangan Kukar.

Pemkab Kukar juga terus memperbarui data lokasi terdampak agar intervensi tidak dilakukan secara parsial.

Aulia mengatakan bahwa kawasan yang memiliki sumber air akan segera diarahkan pada penggunaan pompa, sedangkan kawasan yang benar-benar tidak memiliki sumber air dapat dipertimbangkan untuk mendapatkan intervensi melalui rekayasa cuaca.

“Kita lebih senang lebih banyak titik bisa dialiri atau dibikin rekayasa ini kita semakin senang. Karena tentunya kami juga paham bahwa biaya untuk melakukan rekayasa ini tidak murah. Tapi sekali lagi kita paham bahwa mindset pemerintah adalah bagaimana bisa membawa manfaat yang seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat,” pungkas dia. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *