KUKAR, LINGARKALTIM: Kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian, termasuk di Kecamatan Muara Kaman.
Sejumlah lahan pertanian terdampak kekurangan air, bahkan sebagian petani menghadapi risiko gagal panen.
Meski demikian, Camat Muara Kaman Nadi Baswan memilih tidak pesimistis. Ia menilai kondisi tersebut harus dihadapi secara bersama-sama, terutama melalui penguatan koordinasi antara pemerintah dan petani.
“Yang sekarang ini kalau untuk saat ini banyak yang gagal panen karena memang situasi ini lagi tidak hujan. Tapi saya enggak pesimis, saya tetap optimis. Karena kita harus kerja sama juga,” kata dia, Senin (17/8/2026).
Ia mengatakan, Muara Kaman memiliki posisi penting dalam mendukung ketahanan pangan di Kaltim.
Produksi pertanian dari wilayah tersebut selama ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga turut memasok sejumlah daerah lain, termasuk Samarinda dan Balikpapan.
Karena itu, dampak kemarau terhadap lahan pertanian menjadi perhatian serius. Namun, Nadi menyebut tingkat kegagalan panen sejauh ini belum terlalu meluas.
“Lumayan terdampaknya (kemarau). Tapi, kalau panen sih enggak terlalu gagalnya, enggak terlalu meluas. Mudahan saja selesai Agustusan ini, September hujan. Jangan sampai berlarut juga, bahaya masalahnya,” sebut Nadi.
Dia mengatakan, tim kabupaten telah beberapa kali turun ke wilayah Muara Kaman.
Namun, karakteristik lahan menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kekeringan.
“Sudah beberapa kali kami ke lapangan. Karena situasi kita kan lahan gambut, kalau kita masuk juga tidak bisa,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani mengatakan pemerintah kini berupaya melihat persoalan tersebut secara menyeluruh, bukan lagi secara parsial berdasarkan laporan per kelompok tani.
Salah satu opsi yang sedang dikaji pemerintah adalah melakukan normalisasi saluran air sehingga sumber air yang masih tersedia dapat dialirkan menuju lahan pertanian.
Selain itu, pemerintah daerah juga mulai melihat potensi pemanfaatan sejumlah titik bekas tambang yang memiliki sumber air dan berada relatif dekat dengan kawasan pertanian.
“Misalnya di beberapa tempat, kalau kita normalisasi saluran, air bisa masuk. Begitu juga dengan yang ada point-point eks tambang untuk kita manfaatkan, karena ada beberapa lokasi yang relatif aman dengan adanya point eks tambang itu,” ujar dia.
Pemerintah daerah saat ini juga tengah menghitung kebutuhan pompa berdasarkan luas lahan yang terdampak.
Ia mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan bantuan pompa kepada Kementerian Pertanian setelah kebutuhan di lapangan dipetakan.
“Kita akan berkirim surat ke Kementerian Pertanian untuk meminta bantuan pompa. Kita analisis kemarin dari 2.000 sekian yang terdampak, kita perlu pompa berapa unit,” kata Rifani.
Dia menjelaskan, Kukar selama ini menjadi salah satu daerah penyangga produksi padi di Kaltim.
Karena itu, muncul kekhawatiran kemarau panjang akan berdampak terhadap produksi padi daerah tersebut.
Namun, ia belum mau memastikan produksi padi Kukar tahun ini akan mengalami penurunan.
Pemerintah daerah masih melakukan pendataan dan penanganan terhadap lahan-lahan yang terdampak.
“Saya belum berani bicara menurun atau seperti apa, karena ini kan masih kita tangani. Per hari ini kita sudah ke lapangan. Nanti baru kita lihat apakah menurun atau tidak,” sebutnya
Rifani menerangkan, tidak seluruh tanaman padi mengalami dampak yang sama.
Sebagian petani yang telah menanam lebih awal bahkan sudah memasuki masa panen dan relatif aman dari dampak kekeringan.
Sebaliknya, petani yang baru melakukan penanaman pada Mei hingga Juni menjadi kelompok yang lebih rentan terdampak karena tanaman mereka memasuki fase yang membutuhkan ketersediaan air.
“Yang terdampak ini petani-petani yang memang tanamnya agak terlambat, tanam di bulan Mei, Juni. Kalau yang tanam sebelumnya itu aman, hanya memang tertunda musim tanam berikutnya,” pungkas dia. (ASR)










