KUKAR, LINGKARKALTIM: Menjamurnya kultur cafe kopi (coffee shop) estetik belakangan ini sering kali membuat sebagian orang merasa harus tampil modis dan memikirkan pakaian (outfit) sebelum nongkrong. Namun, kejenuhan itulah yang ditangkap sebagai peluang bisnis oleh Azan, pemilik Cafe Kopi Tana di Tenggarong.
Dibuka sejak 16 Desember 2025 lalu, Cafe Kopi Tana justru mengusung konsep yang sangat santai, homie, dan membumi.
“Aku pengin konsepnya itu semodes (sesederhana) mungkin. Jadi kalian kalau mau ngopi enggak perlu mikirin outfit segala macam. Penginnya Cafe Kopi Tana ini jadi tempat kalian memenuhi kebutuhan kafein harian (daily caffeine),” ungkap Azan saat berbincang pada Sabtu (13/6/2026).
Menariknya, nama “Tana” sendiri diambil dari bahasa Dayak, yaitu tanaq, yang berarti tanah. Azan sengaja menghilangkan huruf ‘q’ di belakangnya agar terdengar lebih familier dengan harapan cafe kopinya bisa benar-benar “membumi” dan merangkul semua kalangan masyarakat tanpa ada batasan segmen pasar tertentu.
Siapa sangka, cafe kopi yang kini ramai dikunjungi ini awalnya hanya diproyeksikan sebagai tempat sementara. Azan sebenarnya berencana membangun lokasi utama di Jalan Aji Masnandai, tepat di samping rumah sakit baru.
Namun, karena animo masyarakat di lokasi saat ini sangat tinggi dan perputaran modalnya bagus, Azan memilih untuk menunda rencana kepindahan tersebut.
“Awalnya sementara, tapi ternyata makin ke sini makin jalan, ya sudah akhirnya masih di sini. Rencana pindah kapan masih belum tahu jadinya. Kami mau maksimalin di sini dulu,” beber pria lulusan Jurusan Hubungan Internasional ini.
Meskipun mengusung konsep tempat yang sederhana dan apa adanya, Cafe Kopi Tana tidak main-main soal rasa. Untuk menu kopi susu, mereka mengandalkan Es Kopi Susu Singgah yang menjadi produk paling laris (best seller).
Sementara untuk pencinta kopi hitam, mereka menyediakan varian Americano Series seperti rasa Peach dan Siberi.
Hebatnya, untuk menu kopi hitam (black) maupun kopi susu standar (white), Azan menggunakan biji kopi kelas premium (specialty beans).
Untuk menemani aktivitas ngopi, Cafe Kopi Tana menyediakan tiga menu camilan lokal yang unik, yaitu Lempeng Pisang (Menu paling laris/pasar utama), Lumpia Siram, Mariam Kare.
Strategi ini terbukti berhasil memikat hati pelanggan (market fit). Dari yang awalnya hanya mengandalkan kedatangan teman-teman dekat, kini Cafe Kopi Tana ramai dipromosikan oleh para pembuat konten (content creator).
Hasilnya, cafe yang buka dari jam 16.00 hingga 22.30 WITA ini mampu menjual sekitar 100 cup kopi per hari.
Di balik pertumbuhan bisnisnya yang manis, Azan mengaku menghadapi tantangan berat di sektor rantai pasok (supply chain) dan logistik bahan baku. Sebagai native roaster, Azan membeli biji kopi mentah (green bean) langsung dari Malang, Jawa Timur, untuk kemudian dipanggang (roasting) di tempat temannya. Proses pengiriman antarpulau ini sering kali memakan waktu.
Tantangan terbesar justru datang dari bahan baku susu segar (fresh milk). Azan mengeluhkan adanya pembatasan kuota pengambilan susu merek tertentu dari gudang logistik yang cenderung mendahulukan merek franchise besar.
“Susu ini per bulan dibatasi. Biasanya kalau mereka bongkaran kontainer, yang diutamakan itu klien gede yang butuh ratusan karton. Sisanya baru dilempar ke UMKM kayak aku. Sering kali kuotanya enggak penuh, kadang cuma dapat 2 sampai 3 karton saja,” jelas Azan yang sebelumnya sempat membuka usaha cafe, konveksi baju, hingga nasi goreng di Malang.
Meski diterpa kendala logistik, Azan optimistis bisnisnya akan terus berkembang. Ke depannya, ia menargetkan Cafe Kopi Tana tidak hanya menemani pelanggan di sore hari, melainkan bisa membuka operasional lebih awal pada waktu siang dan pagi hari. (Dil)










