KUKAR, LINGKARKALTIM: Produk kerajinan lokal asal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kini semakin menunjukkan taji di kancah internasional. Mengusung brand Menggeris, usaha kreatif ini sukses mengolah limbah kayu endemik menjadi jam tangan dan kacamata kayu bernilai tinggi hingga menembus pasar mancanegara.
Founder Menggeris, Iendy Zelviean Adhari, mengungkapkan bahwa bahan baku utama yang mereka gunakan adalah kayu menggeris (Koompassia excelsa) dan kayu ulin. Keduanya merupakan jenis kayu khas Kalimantan dengan tingkat kekerasan level satu.
Menariknya, Menggeris menerapkan prinsip ramah lingkungan. Mereka tidak menebang pohon secara liar (deforestation), melainkan memanfaatkan limbah akar pohon yang sudah tumbang.
“Khusus kayu ulin, kami memakai kayu bekas bangunan rumah tua. Jadi benar-benar memanfaatkan bahan daur ulang. Bahkan ada pelanggan yang minta kayu bekas kursi milik almarhum ayahnya diolah jadi jam tangan, agar memorinya tetap terjaga. Kami memang melayani produk kustom handmade seperti itu,” ujar Iendy saat diwawancarai, Rabu (29/7/2026).
Selain jam tangan, Menggeris memproduksi kacamata kayu yang dilengkapi engsel pegas. Inovasi unggulan mereka adalah kacamata kayu clip-on bermagnet pertama di dunia, yang saat ini dalam proses pengajuan ke Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Produk-produk unik ini dibanderol dengan harga bervariasi, mulai dari Rp800 ribu hingga $500 USD (sekitar Rp8 juta). Pasarnya pun sudah merambah mancanegara.
“Bulan lalu kami baru saja ekspor ke Dubai, Uni Emirat Arab, dan minggu lalu kirim lagi ke Australia. Bahan baku kami juga sudah mengantongi sertifikat Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), jadi legalitasnya terjamin,” tambahnya.
Usaha yang diinisiasi sejak September 2024 ini bermula dari riset mandiri. Iendy melihat para pengrajin di luar Kalimantan sering kali kesulitan mengolah kayu kelas satu seperti ulin dan menggeris karena karakteristiknya yang sangat keras. Dari tantangan itulah lahir inovasi pengolahan kayu khas Kukar ini.
Untuk operasional, workshop dan basis administrasi (NIB) Menggeris terpusat di Loa Kulu, Kukar. Namun, guna mendekatkan diri dengan pasar dan mempermudah penjualan, mereka juga membuka toko di Samarinda.
Meski baru berjalan hampir dua tahun, Menggeris telah mencatatkan omzet hingga dua digit setiap bulannya.
Kendati demikian, Iendy mengaku tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah mengedukasi konsumen terkait nilai pengerjaan tangan (handmade) dan kualitas produk.
Ke depan, Iendy berharap Menggeris dapat ditetapkan sebagai Indikasi Geografis (IG) kerajinan khas Kutai Kartanegara dan terus membawa nama daerah di kancah dunia.
“Kami berharap brand Menggeris bisa menjadi produk unggulan sekaligus cenderamata khas resmi dari Kutai Kartanegara. Produk ini modern, tapi tetap memegang teguh budaya lokal lewat bahan baku kayu khas yang kami gunakan,” tutupnya. (Dil)










