KUKAR, LINGKARKALTIM: Pemerintah Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor pertanian. Lewat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Purnama, mereka meluncurkan program inovatif bernama Sinar Purnama yang menawarkan solusi menyeluruh untuk para petani.
Program ini hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan klasik di lapangan, mulai dari keterbatasan modal, kelangkaan pupuk, hingga risiko gagal panen. Dengan konsep pembiayaan dari hulu ke hilir, petani tidak hanya mendapat pendampingan, tetapi juga jaminan perlindungan usaha.
“Kami fasilitasi dari hulu sampai hilir. Jika ada gagal panen, BUMDes yang menjamin karena sudah ada kerja sama dengan PT Jasindo untuk asuransi pertanian. Begitu juga soal pupuk, kami sudah gandeng PT Pupuk Altin dan PT Pupuk Indonesia, sehingga ketersediaannya lebih terjamin,” jelas Kepala Desa Loh Sumber, Sukirno, Kamis (11/9/2025).
Tidak berhenti di situ, BUMDes Sumber Purnama juga bekerja sama dengan perusahaan penyedia tenaga ahli dan obat pertanian. Hal ini memungkinkan petani lebih fokus pada proses produksi tanpa harus khawatir soal teknis pengendalian hama maupun penyediaan sarana produksi.
Upaya ini terbukti berhasil meningkatkan hasil panen. Contohnya di Desa Sungai Payang pada 2022–2023, hasil produksi yang semula hanya 3–4 ton per hektare melonjak menjadi 6–7 ton per hektare berkat program Sinar Purnama.
“Kalau petani mengikuti juknis dengan baik, hasilnya bisa signifikan. Dari yang biasanya hanya 3–4 ton per hektare, bisa naik menjadi 6–7 ton. Ini bukti nyata bahwa pertanian modern berbasis pendampingan bisa meningkatkan kesejahteraan,” ungkap Sukirno.
Meski demikian, Sukirno menyadari bahwa tantangan besar ke depan adalah regenerasi petani. Minat generasi muda terhadap pertanian masih rendah, karena lebih banyak yang memilih bekerja di sektor tambang.
Untuk itu, pihaknya berupaya mengubah pola pikir generasi muda agar menyadari bahwa pertanian memiliki prospek cerah secara ekonomi. Dengan pola modern dan sistem yang terintegrasi, bertani bukan hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha menjanjikan.
“Banyak generasi muda lebih tertarik ke tambang. Padahal tambang ada batasnya. Kami ingin ubah mindset mereka bahwa bertani juga punya prospek menjanjikan, apalagi kalau dikelola dengan sistem yang modern,” tegas Sukirno.
Di sisi lain, program Sinar Purnama juga diproyeksikan untuk mendukung ketahanan pangan daerah, khususnya menghadapi tantangan besar hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Sukirno menekankan pentingnya masyarakat lokal siap menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton di daerah sendiri.
“Kalau kita tidak siap, hadirnya IKN bisa jadi bumerang. Karena itu, kami di Desa Loh Sumber berkomitmen menyiapkan generasi muda agar mampu mengelola potensi lokal, termasuk pertanian, sehingga tidak tertinggal di negeri sendiri,” ujar Sukirno.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik menyambut baik langkah Desa Loh Sumber. Menurutnya, program Sinar Purnama selaras dengan strategi pemerintah daerah dalam memperkuat sektor pertanian sebagai penyangga kebutuhan pangan IKN.
“Kami sangat mendukung program inovatif desa seperti ini. Kehadiran IKN tentu menjadi peluang sekaligus tantangan. Kukar harus bisa menjadi lumbung pangan yang tangguh, dan kolaborasi pemerintah desa, petani, serta pihak swasta adalah kunci,” terang Muhammad Taufik.
Lebih jauh, Taufik menegaskan bahwa Distanak Kukar akan terus mendorong sinergi antar-desa, BUMDes, dan kelompok tani untuk memperkuat kedaulatan pangan. Ia berharap pola yang sudah berjalan di Loh Sumber bisa menjadi contoh bagi desa lain di Kukar.
“Desa Loh Sumber telah menunjukkan langkah nyata. Ke depan, Distanak akan memperkuat pendampingan dan mendorong replikasi model ini di desa lain. Dengan begitu, ketahanan pangan lokal bisa terjaga dan masyarakat ikut menikmati manfaatnya,” tutupnya. (WAN/ADV)










