KUKAR, LINGKARKALTIM: Ketersediaan sumber air menjadi persoalan mendasar yang masih dihadapi sektor pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas petani, terutama saat musim kemarau tiba.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Taufik, mengungkapkan bahwa daerah ini tidak memiliki bendungan besar atau irigasi permanen seperti di Pulau Jawa. Akibatnya, pasokan air untuk lahan sawah bergantung pada curah hujan dan debit Sungai Mahakam yang cenderung fluktuatif.
“Hanya dua minggu tanpa hujan saja, lahan di sentra pertanian sudah mulai retak. Tanah di sini sifatnya cepat poros sehingga air cepat hilang, sementara air Mahakam juga bisa surut jauh,” jelas Taufik, Selasa (12/8/2025).
Menurutnya, hujan yang turun dalam dua hari terakhir menjadi penyelamat bagi tanaman padi yang kini tengah mendekati masa panen. Jika tidak, banyak lahan yang terancam gagal panen karena kekurangan air.
“Kami bersyukur hujan datang tepat waktu, sehingga padi bisa diselamatkan. Ini juga memberi peluang bagi petani untuk memulai musim tanam ketiga pada Agustus–September,” ujarnya.
Taufik menambahkan, pemerintah daerah telah membangun sejumlah embung kecil untuk membantu kebutuhan air pertanian. Namun kapasitas embung tersebut hanya mampu mengairi sekitar 10–20 hektare lahan, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi di seluruh wilayah.
Selain itu, Distanak Kukar terus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dalam mengatasi kendala saluran air. PU bertugas menormalisasi saluran besar, sedangkan Distanak memperbaiki saluran tersier yang langsung mengalirkan air ke lahan persawahan.
“Beberapa titik sudah terkoneksi dengan baik antara saluran besar dan saluran persawahan. Namun di lapangan, keterbatasan sumber air tetap menjadi hambatan utama,” kata Taufik.
Ia menegaskan, upaya menjaga ketersediaan air sangat krusial untuk mempertahankan produksi padi di Kukar. Tanpa sistem irigasi yang memadai, produktivitas petani akan sangat bergantung pada cuaca, yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim.
“Kami akan terus mencari solusi jangka panjang, baik melalui pengembangan infrastruktur air maupun inovasi teknologi pertanian yang lebih hemat air,” pungkasnya.(IDN/ADV)










