Wisata Bukit Mahoni Bangun Rejo, Pariwisata Berbasis Alam dengan Konsep Kuliner Tradisional hingga Panggung Seni

Suasana Wisata Bukit Mahoni Bangun Rejo yang ramai oleh pengunjung. (Pokdarwis Mentari Desa Bangun Rejo)
Suasana Wisata Bukit Mahoni Bangun Rejo yang ramai oleh pengunjung. (Pokdarwis Mentari Desa Bangun Rejo)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Pengembangan pariwisata di tingkat desa tidak selalu harus bertumpu pada pembangunan fasilitas berskala besar.

Pemanfaatan potensi alam yang dipadukan dengan aktivitas ekonomi masyarakat dan ruang bagi pelaku seni justru dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Read More
banner 300x250

Konsep tersebut dikembangkan oleh Wisata Bukit Mahoni di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Destinasi yang dikelola Pokdarwis Mentari Desa Bangun Rejo ini mengusung wisata berbasis alam dengan memanfaatkan kawasan hutan mahoni sebagai daya tarik utama.

Ketua Pokdarwis Mentari Desa Bangun Rejo, Lucky Annisa menjelaskan bahwa Bukit Mahoni memiliki kawasan hutan mahoni dengan luas kurang lebih satu hektare.

Potensi itu pun dikembangkan tidak hanya sebagai ruang untuk menikmati suasana alam, tetapi juga dilengkapi dengan konsep pasar kuliner tradisional.

“Jadi, ada hutan mahoni seluas kurang lebih satu hektare, kemudian kami hadirkan pasar kulinernya tradisional, konsep pasar kuliner tradisional,” ucap dia, Sabtu (5/9/2026).

Selain kuliner, pengembangan Bukit Mahoni juga diarahkan untuk memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya pelaku seni.

Pihaknya menyediakan panggung kreasi seni yang menjadi wadah pertunjukan musik dan kegiatan seni lainnya.

Ia menerangkan, pertunjukan tersebut menjadi salah satu agenda yang turut menghidupkan kawasan wisata, terutama pada akhir pekan, khususnya Sabtu malam dan Minggu pagi.

Pola tersebut membuat akhir pekan menjadi waktu dengan tingkat kunjungan paling tinggi.

Konsep wisata malam tersebut tidak muncul begitu saja.

Dia mengungkapkan bahwa gagasan itu terinspirasi dari hasil orientasi lapangan ke Yogyakarta, khususnya kawasan Pinus Pengger di Gunung Kidul.

Dari kunjungan tersebut, Pokdarwis mengadopsi konsep hutan yang dihiasi pencahayaan, area kuliner, serta sajian musik.

Konsep itu kemudian disesuaikan dengan karakter dan potensi yang dimiliki Desa Bangun Rejo.

“Jadi, itu yang kami adopsi, kemudian kami tetapkan di sini,” ungkap Annisa.

Dia menerangkan, salah satu strategi pengelola Bukit Mahoni adalah mempertahankan harga tiket yang terjangkau.

Kebijakan tersebut disesuaikan dengan konsep destinasi yang dikembangkan sebagai wisata alam sederhana dan dapat dinikmati berbagai kalangan.

Pengunjung dewasa dikenakan tiket masuk Rp10 ribu, sementara anak-anak Rp5 ribu. Untuk anak berusia di bawah empat tahun, pengelola tidak mengenakan tiket masuk.

Lalu, untuk biaya parkir juga dibuat relatif terjangkau. Kendaraan roda dua dikenakan Rp2 ribu, mobil Rp5 ribu, sedangkan kendaraan bus dikenakan Rp30 ribu.

Ia mengatakan bahwa Bukit Mahoni mulai dibuka pada 2023. Pada 2023 hingga 2024, pengelola masih berada dalam tahap pengembangan.

Destinasi tersebut mulai dikenal, tetapi mayoritas pengunjung masih berasal dari wilayah Kecamatan Tenggarong Seberang.

Perubahan mulai terasa ketika Pokdarwis secara konsisten memperbarui informasi dan mempromosikan destinasi melalui media sosial.

Konten mengenai Bukit Mahoni kemudian mendapatkan perhatian pengguna media sosial hingga sejumlah unggahan menjadi viral. Kondisi tersebut secara perlahan mengubah karakter pengunjung.

Jika sebelumnya pengunjung didominasi masyarakat sekitar, kini sekitar 80–85 persen wisatawan disebut berasal dari luar Kecamatan Tenggarong Seberang.

Pengunjung tersebut antara lain datang dari Samarinda, Bontang, Loa Janan hingga Tenggarong.

“Jadi memang untuk saat ini bisa dikatakan persentasenya mungkin sekitar 80–85 persen pengunjung dari luar kecamatan kami,” ungkapnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Awang Agus Dharmawan menilai promosi menjadi salah satu faktor penting dalam memperkenalkan potensi destinasi kepada masyarakat maupun wisatawan dari luar daerah.

Menurutnya, perkembangan jumlah kunjungan tidak terlepas dari kemampuan pengelola dalam menyampaikan informasi mengenai daya tarik destinasi secara konsisten.

“Alhamdulillah, Bukit Mahoni di L3, Tenggarong Seberang, di Bangun Rejo, sekarang sudah banyak berseliweran di media-media sosial dengan gencarnya promosi mereka,” ujar dia.

Ia menyebut saat ini pengunjung Bukit Mahoni berasal dari berbagai daerah di Kaltim.

Pengelola yang melakukan promosi melalui media sosial membuat informasi mengenai destinasi tersebut semakin luas.

“Ini menurut kami menunjukkan promosi yang dilakukan Pokdarwis Mahoni mulai memberikan dampak terhadap jangkauan kunjungan wisatawan,” pungkas Awang Agus. (ASR)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *