KUKAR, LINGKARKALTIM: SMK Negeri 1 Tenggarong telah memastikan peserta didiknya tak melakukan tindakan bullying.
Pasalnya, tindakan bullying ini dapat mengakibatkan terganggunya mental atau psikolog terhadap korban.
Kepala SMK N 1 Tenggarong Nani Titi Sari mengatakan, dari sekolah telah rutin melakukan sosialisasi terhadap dampak dari tindakan bullying itu sendiri.
Dampak bullying ini sangat besar, dapat menimbulkan ancaman bahaya bagi pelaku maupun korban.
“Sekolah kita merupakan sekolah inklusi atau yang menerima Anak Berkebutuhan Khusus (ABK),” kata Nani Titi Sari pada Lingkarkaltim, Kamis (2/7/2026).
“Dan peserta didik bisa paham terhadap dampak tindakan bullying, setelah rutin dilakukan sosialisasi,” imbuhnya.
Untuk melakukan pencegahan tindakan bullying, pihaknya juga berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar.
“Kita juga membuka ruang bagi anak-anak yang ingin berdiskusi terlebih terkait mental, dengan menghadirkan psikolog atau guru Bimbingan Konseling (BK),” ujarnya.
Dirinya berharap, tidak ada tindakan bullying kedepannya. Seluruh peserta didik memiliki hak yang sama dalam menuntut ilmu di sekolah ini.
Sementara itu Plt Kepala DP3A Kukar, Safliansyah menjelaskan, ada sekitar 700 kasung yang ditangani saat ini dan sebagian besarnya ialah bullying.
Maraknya kasus bullying ini terjadi akibat kurangnya pengawasan dari lingkungan sekitar baik itu didunia pendidikan hingga di rumah.
“Kasus bullying ini segera ditangani, karena berdampak besar baik dari yang melakukan hingga korban bullying,” jelas Safliansyah.
Bullying ini berawal dari bercanda yang terlewat batas, hingga membuat korban sakit hati.
Menurutnya, jika kasus ini tak ditangani segera bisa mengakibatkan kekerasan antara keduanya. Untuk itu, peran orangtua atau lingkungan sekitar sangat penting terhadap tindakan bullying ini.
“Jika melihat ada yang melakukan bullying bisa segera ditegur sebelum terlewat batas,” pungkasnya. (Kik)










