KUKAR, LINGKARKALTIM: Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop UKM) Kukar terus mendorong Koperasi Merah Putih untuk tidak hanya menjalankan program yang telah ditetapkan pemerintah, tetapi juga mampu menggali dan mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki masing-masing desa dan kelurahan.
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Pengembangan Koperasi, Endri Rosandi mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah unit usaha yang dapat dijalankan melalui gerai Kopdes Merah Putih.
Namun, koperasi juga harus mampu mengembangkan usaha lain yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Ia menjelaskan, keberadaan gerai-gerai tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kelurahan.
Dia menyebut bahwa setiap daerah memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Oleh karena itu, pengembangan usaha koperasi tidak bisa disamaratakan.
“Harapannya yang jenis program-program dalam pemerintah yang jenisnya penugasan subsidi itu ya harapannya di koperasi itu, dengan mengharapkan tadi potensi lainnya. Kan endak semua sama nih, katakanlah di daerah hulu dengan daerah pesisir kan beda. Di daerah hulu bisa jadi potensinya perikanan, daerah lainnya mungkin pertanian misalnya kan. Nah beda. Jadi gerai itu harapannya menggali juga potensi lainnya,” ucapnya, Kamis (1/7/2026).
Meski sebagian besar koperasi masih dalam tahap penguatan kelembagaan dan usaha, sejumlah Kopdes Merah Putih di Kukar mulai menunjukkan aktivitas ekonomi.
Diskop-UKM Kukar mencatat setidaknya terdapat beberapa titik yang telah menjalankan usaha secara mandiri.
“Ada beberapa titik yang kami lihat sudah beroperasi, ya di tujuh titik lah. Cuman kan namanya pasang surut, hari ini beroperasi bisa jadi besok tidak,” ungkap Endri.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut merupakan hal yang wajar karena koperasi pada dasarnya merupakan lembaga usaha yang dijalankan oleh anggota.
Modal usaha yang digunakan juga berasal dari simpanan anggota sehingga perkembangan usaha sangat bergantung pada kemampuan pengelolaan dan partisipasi anggota.
“Karena apa, ini kan balik lagi yang beroperasi ini yang secara mandiri mengoperasionalkan. Modalnya dari mana? Dari simpanan anggotanya ini tadi. Yang namanya bisnis ini kan bisa berjalan, artinya gagal bisa juga berhasil kan. Nah ini fluktuatif,” jelas dia.
Endri mengungkapkan, salah satu contoh koperasi yang cukup berkembang berada di Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana.
“Sungai Meriam itu yang memanfaatkan potensi yang ada dari simpanan anggotanya, termasuk permodalan itu dari anggota. Mereka jualan beras Bulog gitu. Nah beras Bulog termasuk juga apa, sembako yang lain itu ada di situ. Lumayan putarannya. Ada saya lihat dari laporan itu, putaran usaha volumenya itu sampai Rp300 juta,” ungkapnya.
Di balik berbagai tantangan yang dihadapi, Diskop-UKM Kukar meyakini koperasi memiliki peran penting dalam membangun ekonomi berbasis masyarakat.
Ia menilai bahwa koperasi dapat menjadi instrumen untuk memperluas kepemilikan ekonomi sehingga tidak hanya dikuasai oleh kelompok tertentu.
“Memang bagi kami pemerintah ini memang tantangan. Namanya bisnis kan bisa berhasil bisa juga gagal. Tetapi bagi pemerintah ini meyakini karena ini perlu didorong terus. Karena jangan sampai ekonomi ini dikuasai segelintir orang,” tegas Endri.
Ia mengatakan, sejumlah koperasi di wilayah hulu Kukar telah menunjukkan dampak nyata bagi pembangunan desa.
Bahkan, ada koperasi yang mampu membantu kebutuhan masyarakat melalui program sosial dan pembangunan infrastruktur tanpa bergantung pada bantuan pemerintah, salah satunya di Desa Rantau Hempang, Kecamatan Muara Kaman.
“Itu bayangkan untuk membangun puskesmas itu dana koperasi tanpa dukungan pemerintah. Mereka yang membantu CSR. Karena perputaran koperasi sudah miliaran. Sehingga kebutuhan masyarakat kadang-kadang tanpa pemerintah ikut intervensi. Mereka sudah lihat jalan rusak karena koperasi yang bangun. Nah, saya melihat gambarannya seperti itu. Nah, harapannya memang koperasi ini dapat berperan di situ,” tutur dia.
Selain itu, sambung Endri, koperasi juga bisa melakukan kemitraan dengan BUMDes di masing-masing wilayah.
“Ya tentu kan desa tahu lah potensinya, mana yang bisa diusahakan BUMDes, mana yang bisa diusahakan koperasi. Ya lebih bagus lagi apa, terjalin kemitraan, sama-sama. Yang penting tujuannya adalah membangun ekonomi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, kemitraan menjadi solusi untuk mengatasi dua tantangan utama yang dihadapi koperasi, yakni keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan modal usaha.
Apabila BUMDes memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam dua aspek tersebut, kolaborasi dapat menjadi jalan untuk mempercepat pengembangan usaha.
“Yang penting kan cara baginya. Nah sehingga sama-sama kuat perannya ini. Bukan kemudian saling bersaing, tapi sama-sama,” sebut Endri.
Diskop-UKM Kukar terus mengedukasi desa agar membangun pola kemitraan antara koperasi dan BUMDes. Beberapa contoh kolaborasi bahkan mulai terlihat di sejumlah wilayah.
“Di Loa Janan Ulu, Kopdes Merah Putih sama Bumdes sudah mulai jalin kemitraan. Desa Batuah juga Bumdes menyiapkan ternak ayam, di koperasi penjualannya. Jadi kolaborasi ini memang butuh contoh sih sebetulnya. Kalau ada satu dua yang sudah berhasil nanti, nah mungkin yang lain bisa meniru,” pungkas dia. (ASR)










