KUKAR, LINGKARKALTIM: Kelapa sawit masih menjadi komoditas perkebunan paling dominan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Dari total luas perkebunan mencapai 206 ribu hektare, sekitar 180 ribu hingga 186 ribu hektare di antaranya merupakan areal perkebunan kelapa sawit.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar, Muhammad Taufik mengatakan potensi pengembangan sawit tersebar di seluruh 20 kecamatan di Kukar.
Ia menjelaskan, terdapat beberapa wilayah yang menjadi sentra unggulan pengembangan komoditas tersebut.
Dia mengungkapkan bahwa kawasan Kahala, Kembang Janggut, dan Tabang menjadi salah satu pusat pengembangan sawit terbesar.
“Kemudian kawasan kedua adalah Marangkayu, Muara Badak, Anggana, dan sekitarnya,” ungkap dia baru-baru ini.
Besarnya potensi perkebunan sawit tersebut juga didukung keberadaan industri pengolahan.
Saat ini Kukar memiliki 18 pabrik kelapa sawit (PKS) yang memproduksi crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah.
Disbun Kukar pun terus mendorong pengembangan industri hilir agar nilai tambah komoditas sawit tidak hanya berhenti pada produksi CPO.
Salah satu peluang yang tengah dijajaki adalah pembangunan industri pengolahan minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO).
Ia menerangkan, sejumlah calon investor mulai melirik peluang investasi sektor hilirisasi sawit di Kukar.
“Ada penjajakan juga dari calon investor dari China yang melihat peluang pembangunan pabrik industri minyak inti sawit,” kata Taufik.
Selain sawit, Kukar juga memiliki sejumlah komoditas perkebunan lain yang menjadi fokus pembinaan pemerintah daerah.
Komoditas tersebut meliputi karet, kelapa dalam, lada, kopi, kakao, dan aren.
Namun demikian, luas perkebunan komoditas-komoditas tersebut masih jauh di bawah kelapa sawit.
Dominasi sawit bahkan mencapai lebih dari 90 persen dari total luasan perkebunan yang ada di Kukar.
Dari sekitar 186 ribu hektare perkebunan sawit yang ada saat ini, sekitar 35 ribu hingga 36 ribu hektare merupakan kebun rakyat.
Sementara sisanya masih didominasi oleh perkebunan besar milik perusahaan, termasuk kebun plasma yang bermitra dengan masyarakat.
Ia mengatakan, londisi tersebut menunjukkan bahwa peran perkebunan rakyat di sektor sawit Kukar masih relatif kecil dibandingkan dengan tren nasional.
Secara nasional, perkebunan rakyat atau perkebunan swadaya sawit telah berkontribusi sekitar 40 persen terhadap total luas perkebunan sawit.
Taufik berharap pengembangan industri hilir dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi daerah sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar perkebunan.
“Kelapa sawit ini masih menjadi komoditas utama perkebunan di Kutai Kartanegara. Karena itu, kami berharap tidak hanya berhenti pada produksi CPO, tetapi juga berkembang ke industri turunannya sehingga nilai tambahnya bisa dinikmati di daerah,” tutup dia. (ASR)










