Abrasi Tepian Indah Kota Bangun Ulu Makin Parah, 12 Meter Papan Ulin Dibongkar

Kondisi Tepian Indah Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun (Dok. Pemdes Kota Bangun Ulu)
Kondisi Tepian Indah Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun (Dok. Pemdes Kota Bangun Ulu)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Abrasi di kawasan Tepian Indah, Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kembali terjadi. Kondisi tahun ini dinilai lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat kemarau panjang dan perubahan kondisi tanah.

Kepala Desa Kota Bangun Ulu, Khairul Umam, mengatakan abrasi di kawasan tersebut sebenarnya terjadi hampir setiap tahun. Namun, pada 2026 pergerakan tanah semakin intensif karena musim kemarau yang cukup panjang.

Read More
banner 300x250

“Kalau abrasi ini memang setiap tahun ada. Cuma tahun ini lebih parah karena faktor El Nino dan kemarau panjang. Ketika turun hujan, terjadi pergerakan tanah dan abrasi,” ujar Khairul Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, titik pergerakan tanah berada di kawasan RT 12 hingga RT 16. Salah satu bagian yang terdampak berada di kawasan Tepian Indah yang selama ini menjadi salah satu ikon Desa Kota Bangun Ulu sekaligus lokasi warga berkumpul dan menggelar berbagai kegiatan.

Khairul menyebut sekitar 12 meter bagian tepian mengalami pergerakan dan tertarik akibat abrasi. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pemerintah desa bersama masyarakat membongkar papan ulin yang berada di lokasi terdampak untuk diselamatkan.

“Sekitar 12 meter kami bongkar dulu. Papan ulinnya kami selamatkan karena kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Ia menjelaskan, pergerakan tanah mulai terjadi sejak Agustus 2026 dan terus berlangsung hampir setiap hari. Pergerakannya bervariasi, mulai sekitar 10 hingga 20 sentimeter.

Kondisi tersebut diperparah dengan debit air yang masih rendah akibat kemarau panjang. Ketika hujan turun setelah periode kemarau, kondisi tanah mengalami perubahan sehingga memicu pergerakan.

Untuk sementara, pemerintah desa telah memasang tanda peringatan dan menutup sejumlah area yang dianggap berbahaya. Warga maupun pengunjung diimbau tidak mendekati lokasi yang rawan mengalami pergerakan tanah.

“Sudah kami imbau masyarakat, baik melalui media maupun secara langsung kepada pengunjung agar tidak mendatangi zona yang kami pasangi tanda sebagai area berbahaya,” jelasnya.

Pemerintah Desa Kota Bangun Ulu juga akan melakukan gotong royong bersama masyarakat untuk memperbaiki sejumlah akses yang terdampak. Kegiatan tersebut difokuskan pada bagian jembatan dan jalan yang kondisinya mulai curam akibat pergerakan tanah.

Khairul mengatakan penanganan sementara dilakukan secara swadaya karena pemerintah desa belum memiliki anggaran khusus untuk memperbaiki kawasan tersebut secara permanen.

“Kami dari desa semampu kami tangani dulu. Karena anggaran untuk perbaikan belum ada, sifatnya swadaya dan gotong royong bersama masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kukar, Wiyono, bersama jajaran dan pemerintah kecamatan telah meninjau langsung kondisi Tepian Indah pada Sabtu lalu. Peninjauan tersebut dilakukan setelah mendapat arahan dari Bupati Kukar untuk melihat kondisi lapangan.

Khairul berharap hasil peninjauan tersebut segera ditindaklanjuti dengan kajian dan penanganan, mengingat Tepian Indah merupakan salah satu kawasan yang menjadi ikon sekaligus lokasi wisata masyarakat di Kota Bangun Ulu.

“Harapannya segera ditangani karena ini merupakan maskot Kota Bangun dan tempat masyarakat berkumpul maupun menggelar kegiatan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kukar, Linda Juniarti, mengatakan pihaknya telah menurunkan tenaga ahli untuk melakukan pengamatan awal di lokasi. Namun, pengamatan yang dilakukan sejauh ini masih bersifat visual.

Menurut Linda, diperlukan kajian lebih mendalam sebelum dilakukan pembangunan permanen. Hal tersebut penting untuk mengetahui kondisi struktur tanah dan menentukan metode konstruksi yang tepat.

“Kami hanya mengamati secara visual. Tidak ada uji laboratorium atau pengambilan sampel tanah karena memang belum ada biaya untuk itu. Kemarin kami menurunkan tenaga ahli untuk melakukan pengamatan visual,” jelas Linda.

Ia mengingatkan pembangunan secara terburu-buru justru berpotensi menimbulkan persoalan baru. Kondisi tanah yang saat ini terlihat keras akibat kemarau dapat kembali menjadi lunak ketika musim hujan tiba.

Jika badan jalan langsung dibangun secara permanen tanpa memperkuat struktur tanah di bawahnya, konstruksi berpotensi mengalami penurunan atau bahkan kerusakan.

“Kalau kita bangun lagi badan jalan di atas tanah tetapi tidak diperkuat, kemungkinan akan turun sampai tanahnya stabil. Kalau langsung dibuat rigid, bisa patah,” ujarnya.(ahk)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *