SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Panitia pelaksana Borneo International Fashion Festival (BIFF) merilis detail rencana kerja pelaksanaan acara yang akan dipusatkan di area outdoor Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada awal Oktober mendatang. Ajang ini digadang-gadang menjadi jembatan utama untuk mempromosikan industri kreatif dan pariwisata Kaltim ke tingkat internasional.
Project Director BIFF, Anas Maghfur, mengungkapkan bahwa BIFF dirancang untuk mengubah potensi budaya lokal menjadi kekuatan ekonomi yang bernilai tinggi. Keterlibatan ekosistem kreatif di Kaltim dinilai mampu menarik minat wisatawan sekaligus investor yang berdampak langsung pada perputaran uang di sektor jasa, perhotelan, transportasi, hingga kuliner daerah.
Dalam keterangannya, Anas menyebutkan bahwa target 400 koleksi busana dari 40 desainer dan 40 model profesional telah mendekati tahap perampungan. Pihaknya juga menghadirkan inovasi dengan mengangkat motif Kupu-kupu Raja Brooke sebagai representasi keanekaragaman hayati Borneo, serta menyediakan official website dan soundtrack khusus dari Belas Music.
Mengenai mekanisme kehadiran penonton, Anas merinci bahwa panggung utama akan menggelar dua kali show dalam sehari (sore dan malam). Pihaknya mengatur alokasi tempat duduk agar tertib namun tetap ramah bagi publik.
”Harapan kami dengan adanya event ini, industri, ekosistem, dan bisnis para pengrajin makin tumbuh dan berkembang hingga ke mancanegara. Bagi masyarakat umum yang mau ikut serta, dipersilakan mendaftar lewat situs resmi. Kita berlakukan sistem ticketing registrasi tanpa dipungut biaya, tujuannya semata-mata untuk mengontrol kuota tempat duduk supaya penyelenggaraan acara berjalan rapi dan maksimal,” tutur Anas pada konferensi pers, Kamis (10/9/2026).

Menambahi penjelasan dari aspek teknis perhelatan, Creative Director BIFF, Tyas Dani, menguraikan skema zona acara yang mencakup panggung peragaan busana serta area stand pameran untuk produk kriya, aksesori, dan kuliner UMKM Kaltim. Puncak fashion show sendiri dijadwalkan berlangsung pada 3 dan 4 Oktober 2026.
Dani memaparkan bahwa seluruh desainer nasional yang hadir diwajibkan menggunakan bahan dasar wastra Kaltim seperti Ulap Doyo, Sarut, maupun Batik Ampiek. Pihaknya sengaja menggandeng desainer luar daerah agar pengolahan wastra Kaltim semakin kaya variasi dan siap diserap pasar global.
”BIFF adalah peluang bagus untuk membawa produk daerah menembus pasar nasional dan internasional. Kami ingin menunjukkan komitmen terhadap industri kreatif dan pembangunan berkelanjutan. Saya mengajak masyarakat dan media untuk bersama-sama menyukseskan gelaran ini, serta mendorong generasi muda lokal agar tidak malu atau canggung membawa karya daerah ke tingkat dunia,” pungkas Dani.(dev)










