KUKAR, LINGKARKALTIM: SD Negeri (SDN) 015 Tenggarong, yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tengah mempersiapkan diri untuk meningkatkan predikat Adiwiyata dari tingkat nasional menuju tingkat mandiri. Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan akibat penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Wakil Kepala Bidang Kurikulum SDN 015 Tenggarong, Ummi, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama dalam meningkatkan predikat Adiwiyata adalah keterbatasan interaksi langsung dengan siswa selama PJJ.
Menurutnya, program Adiwiyata Mandiri tidak hanya menekankan kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga mendorong kesadaran dan inisiatif siswa dalam menjaga lingkungan sekitarnya.
“Kami kesulitan karena kondisi sekolah lebih sering PJJ. Hampir dua bulan terakhir, mayoritas sekolah di Kutai Kartanegara (Kukar) selalu menanti jadwal PJJ dan melihat tinggi rendahnya kabut asap,” ungkap Ummi kepada Lingkarkaltim.com, Senin (26/10/2026).
Kondisi tersebut membuat pihak sekolah menghadapi kendala dalam menyosialisasikan berbagai komponen Adiwiyata Mandiri kepada siswa. Padahal, keterlibatan aktif siswa menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut.
Ummi menjelaskan, dalam pelaksanaan program Adiwiyata kali ini, SDN 015 Tenggarong juga membina dua sekolah, yakni SDN 019 Tenggarong di Kelurahan Sukarame dan SDN 027 Tenggarong di Kelurahan Timbau.
Melalui program pembinaan tersebut, para siswa diharapkan dapat berperan aktif dalam menyebarluaskan pengetahuan dan kebiasaan menjaga lingkungan kepada sekolah binaan.
“Pengimbasan kami berfokus kepada anak-anak murid, karena merekalah yang nantinya akan melakukan penyuluhan untuk SDN binaan kami,” tambahnya.
Di tengah berbagai kendala, pihak sekolah tetap menjalankan sejumlah upaya untuk mendukung program Adiwiyata. Beberapa di antaranya adalah membuat lubang biopori di area sekolah dan menanam tanaman hidroponik di lingkungan sekolah.
Ummi berharap pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan agar sekolah lebih leluasa menanamkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan kepada siswa.
Menurutnya, keberhasilan Adiwiyata Mandiri tidak hanya diukur dari kegiatan yang dilaksanakan sekolah, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran siswa untuk menjaga kebersihan tanpa harus selalu diingatkan.
“Kami berharap bisa secepatnya menerapkan lebih jauh tentang kepedulian lingkungan kepada anak-anak murid. Kami ingin mereka sadar ketika ada sampah di sekitarnya. Tanpa perlu disuruh, mereka sudah berinisiatif untuk membuangnya,” tutup Ummi.(ahk/*far)










