KUKAR, LINGKARKALTIM: SD Negeri (SDN) 027 Tenggarong yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Kelurahan Timbau, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menghadapi persoalan kekurangan murid. Saat ini, sekolah tersebut hanya memiliki 37 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar (rombel).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SDN 027 Tenggarong, Desi Wahyuni, mengatakan minimnya jumlah siswa menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pihak sekolah. Bahkan, kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat sekitar mengira sekolah itu telah tutup permanen.
“Bahkan, kami sempat dikira tutup oleh masyarakat sekitar karena sepinya murid yang ada di sini,” ujarnya.
Desi menilai, salah satu faktor yang memengaruhi minimnya jumlah pendaftar adalah penerapan sistem zonasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Menurutnya, pemetaan wilayah penerimaan murid perlu dievaluasi agar sesuai dengan kondisi dan wilayah layanan masing-masing sekolah.
Ia mengungkapkan, pihak sekolah harus berupaya lebih aktif untuk menjaring calon peserta didik setiap tahun ajaran baru. Salah satunya dengan menyebarkan brosur di sejumlah lokasi guna menarik minat masyarakat.
“Setiap tahun ajaran baru, seharusnya kami menunggu calon peserta didik mendaftar. Namun, kenyataannya, kami justru harus mencari calon peserta didik dengan menyebarkan brosur di jalan,” tambahnya.
Desi juga menyampaikan bahwa wilayah yang menurut pihaknya merupakan bagian dari zonasi SDN 027 Tenggarong diduga masuk dalam cakupan zonasi SDN 026 Loa Kulu. Kondisi tersebut, menurutnya, turut memengaruhi persaingan dalam penerimaan murid baru.
Di sisi lain, ia menilai SDN 027 Tenggarong memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Karena itu, pihak sekolah berharap persoalan kekurangan murid dapat menjadi perhatian pemerintah daerah melalui dinas terkait.
Desi berharap evaluasi dan pembenahan pemetaan zonasi dapat dilakukan sebelum pelaksanaan SPMB pada tahun ajaran mendatang. Dengan demikian, pembagian wilayah penerimaan murid diharapkan lebih sesuai dan memberikan kesempatan bagi sekolah untuk memperoleh peserta didik dari wilayah layanannya.
“Saya sangat berharap ada bantuan dalam pemetaan zonasi sejak awal, dengan tidak mengambil bagian zonasi dari wilayah kami,” pungkasnya. (ahk/*far)










