SAMARINDA, LINGKARKALTIM: Data sementara BPBD Kota Samarinda per 1 September 2026 mencatat total lahan yang terbakar mencapai 227,31 hektare. Empat kecamatan yang menjadi penyumbang terbesar yakni Palaran, Sambutan, Samarinda Utara dan Samarinda Ulu.
“Kondisi kemarau yang masih berlangsung membuat kewaspadaan terhadap Karhutla perlu untuk ditingkatkan,” kata Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, Selasa (01/9/2026).
Berdasarkan data terbaru, Kecamatan Palaran menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni mencapai 43 kasus. Luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 95,36 hektare.
Jumlah itu setara dengan sekitar 33 persen dari seluruh kejadian karhutla di Samarinda. Sementara dari sisi luasan, Palaran menyumbang sekitar 42 persen dari total area yang terbakar.
Sambutan berada di posisi kedua dengan 29 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 69,08 hektare. Selanjutnya Samarinda Utara mencatat 23 kejadian dengan 31,30 hektare lahan terbakar, sedangkan Samarinda Ulu sebanyak 19 kejadian dengan luas 21,02 hektare.
Dengan demikian, empat kecamatan tersebut menyumbang 114 kejadian atau sekitar 87,7 persen dari total kasus karhutla Samarinda. Jika berdasarkan luas lahan, kontribusinya bahkan mencapai lebih dari 95 persen dari total area terbakar.
Konsentrasi kasus juga terlihat pada tingkat kelurahan. Bantuas menjadi kelurahan dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 16 kasus. Berikutnya Simpang Pasir dengan 11 kejadian, sementara Bukit Pinang dan Makroman masing-masing mencatat 10 kejadian.
Lempake dan Pulau Atas menyusul dengan masing-masing delapan kejadian.
Suwarso sebelumnya menyebut BPBD telah melakukan pemetaan terhadap wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Pemetaan tersebut juga diikuti dengan penguatan kesiapsiagaan dan koordinasi dengan berbagai pihak.
“Saya sudah tugaskan anggota untuk mengidentifikasi embung-embung di daerah rawan kebakaran seperti Belimau dan Palaran,” ungkapnya.
Persoalan karhutla di Samarinda tidak hanya berkaitan dengan kondisi cuaca. BPBD sebelumnya menemukan indikasi bahwa sebagian kebakaran diduga berasal dari aktivitas manusia.
Suwarso mengatakan dugaan tersebut muncul berdasarkan identifikasi tim di lapangan, termasuk adanya lokasi yang kembali terbakar setelah sebelumnya berhasil dipadamkan.
“Identifikasi dari BPBD yang melakukan penanganan di lapangan, ada dugaan disengaja,” ujar Suwarso.
Karena itu, tingginya angka karhutla di sejumlah wilayah dinilai tidak cukup hanya diatasi dengan memperkuat respons pemadaman. Pencegahan di tingkat masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan penambahan kasus.
Di sisi lain, tidak seluruh wilayah Samarinda mengalami tingkat kerawanan yang sama. Samarinda Ilir tercatat nihil kejadian, sedangkan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang masing-masing hanya mencatat satu kejadian.
BPBD pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuang benda yang dapat memicu api secara sembarangan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.
Dengan 130 kejadian dan 227,31 hektare lahan terbakar, persoalan karhutla Samarinda kini bukan hanya soal seberapa banyak kebakaran terjadi, tetapi juga bagaimana memutus pola berulang di wilayah-wilayah yang menjadi titik rawan, terutama Palaran, Sambutan, Samarinda Utara dan Samarinda Ulu.










