Menteri Kebudayaan Buka Pameran There Was Something Here Before, Telusuri Hubungan Sejarah Indonesia dan Afrika Selatan

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka pameran There Was Something Here Before karya Zahira Asmal di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (Dok. Menbud RI)
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka pameran There Was Something Here Before karya Zahira Asmal di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (Dok. Menbud RI)
banner 468x60

JAKARTA, LINGKARKALTIM: Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka pameran There Was Something Here Before karya Zahira Asmal di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran ini menelusuri hubungan sejarah Indonesia dan Cape Town, Afrika Selatan, melalui perpindahan manusia melintasi Samudra Hindia selama lebih dari tiga abad. Pameran yang berlangsung pada 3 Oktober hingga 23 Desember 2026 di Erasmus Huis, Jakarta ini juga mengangkat kembali kisah masyarakat asal Indonesia yang turut membentuk kehidupan dan kebudayaan di Cape Town.

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Kedutaan Besar Kerajaan Belanda dan Erasmus Huis yang telah menghadirkan ruang pertukaran budaya melalui pameran tersebut. Menurutnya, Erasmus Huis memiliki peran penting sebagai platform pertukaran budaya Indonesia dan Belanda. Kehadiran pameran ini juga memperluas dialog sejarah dengan melibatkan Afrika Selatan sebagai bagian dari hubungan kebudayaan yang telah terjalin selama berabad-abad.

Read More
banner 300x250

“Pameran There Was Something Here Before mengajak kita melihat kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog. Karya ini mempertemukan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan dalam satu kerangka sejarah dan kebudayaan yang saling terhubung. Saya mengapresiasi Zahira Asmal yang mengajak kita melihat lebih dalam berbagai lapisan ingatan, komunitas, dan sejarah yang membentuk sebuah kota,” ucapnya.

Menbud menjelaskan, salah satu tokoh penting dalam hubungan sejarah Indonesia dan Afrika Selatan adalah Syekh Yusuf al-Makassari. Setelah mendukung Sultan Ageng Tirtayasa dalam perlawanan terhadap perluasan kekuasaan VOC di Banten, Syekh Yusuf ditangkap pada 1683 dan diasingkan ke Sri Lanka pada 1684. Pada 1693, pemerintah kolonial Belanda kemudian memindahkannya ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Meskipun berada jauh dari tanah kelahirannya, Syekh Yusuf tetap menyebarkan ajaran dan memberikan pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat setempat.

“Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus. Di Cape Town, beliau terus mengajar dan menjadi pusat kehidupan spiritual serta komunitas. Warisannya masih dapat kita lihat hingga hari ini melalui keberadaan makam keramatnya dan masyarakat yang tumbuh di sekitar sejarah serta ingatannya,” jelas Menbud Fadli Zon.

Lebih lanjut, Menbud menyampaikan bahwa sejarah tersebut menjadi landasan penting untuk memperkuat kerja sama kebudayaan Indonesia dan Afrika Selatan. Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan pameran Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makasari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity di Indonesia House Amsterdam, Belanda, yang akan dilengkapi seminar ilmiah internasional dan program pemutaran film. Kementerian Kebudayaan juga mengembangkan rencana pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town.

“Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town. Melalui berbagai program tersebut, sejarah Syekh Yusuf dapat terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Kami juga berharap kehadiran rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town dapat menjadi jembatan kebudayaan yang memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menyampaikan bahwa pameran ini menghadirkan kisah sejarah yang menghubungkan Indonesia, Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Belanda. Menurutnya, sejarah tersebut tidak hanya dapat dipahami melalui dokumen dan arsip, tetapi juga melalui ingatan, benda, suara, serta fotografi yang memperlihatkan pengalaman masyarakat lintas generasi.

“Sejarah memiliki banyak cerita, tetapi tidak semua cerita disampaikan dengan suara yang sama atau didengar secara setara. Bagi kami, pameran ini menjadi cara untuk terhubung dengan sejarah sekaligus membuka ruang refleksi. Kisah Syekh Yusuf dan masyarakat Cape Malay mengingatkan kita bahwa masih banyak jejak sejarah bersama yang perlu dikenali dan tidak boleh dilupakan,” jelas Marc.

Kurator sekaligus penggagas pameran, Zahira Asmal, menjelaskan bahwa There Was Something Here Before berangkat dari upaya memahami siapa saja yang membangun, merawat, dan membentuk sebuah kota. Ia menyoroti kontribusi masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa, Sumatra, Sulawesi, hingga kepulauan lainnya. Mereka membawa pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, dan tradisi yang kemudian turut membentuk kehidupan masyarakat Cape Town.

“Pameran ini mengajak kita memikirkan siapa sebenarnya yang membentuk sebuah kota. Siapa yang membangunnya, merawatnya, membawa pengetahuan, menciptakan kebudayaan, dan berjuang untuk menjadikannya rumah. Banyak dari mereka berasal dari Indonesia dan terus membentuk kehidupan Cape Town hingga hari ini. Saya berharap pameran ini dapat membuat kita melihat serta menghargai kontribusi dan sejarah mereka,” tutur Zahira.

There Was Something Here Before merupakan pameran multimedia interaktif yang memadukan penelitian, materi arsip, fotografi, suara, seni, kesaksian personal, dan desain interaktif. Melalui berbagai medium tersebut, pameran memperlihatkan bahwa kota bukanlah ruang yang statis, melainkan terus terbentuk melalui perpindahan manusia, kerja keras, perjuangan, kepedulian, dan upaya pemulihan. Pameran ini diselenggarakan oleh Erasmus Huis, pusat kebudayaan Belanda di Indonesia, dan merupakan bagian dari proyek Zahira Asmal bertajuk See. Proyek tersebut memperluas kajian mengenai berbagai kondisi yang membentuk kota-kota yang diwariskan kepada generasi saat ini.

Zahira Asmal merupakan seorang urbanis sekaligus direktur The City, lembaga penelitian, penerbitan, dan place-making independen yang didirikan pada 2010. Praktiknya berfokus pada pembentukan kota, hak atas kota, serta peran desain dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap ruang perkotaan.

Hadir dalam pembukaan pameran Duta Besar Afrika Selatan untuk Indonesia, Mpetjane Kgaogelo Lekgoro; serta Plt. Direktur Erasmus Huis, Nassim Abba. Turut hadir jajaran Kementerian Kebudayaan, antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti; Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan, Mardisontori.

Menutup sambutannya, Menbud mengajak seluruh pihak untuk menjadikan pameran tersebut sebagai ruang pembelajaran bersama dalam memahami dan merawat sejarah yang membentuk kehidupan masyarakat. Beliau berharap pameran ini dapat membuka lebih banyak percakapan dan memperkuat hubungan kebudayaan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan, sekaligus menjadi momentum untuk memperdalam kerja sama lintas negara dalam memperingati 400 tahun Syekh Yusuf al-Makassari.

“Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru,” pungkas Menbud Fadli Zon.

 

(Sumber: kemenbud.go.id)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *