KUKAR, LINGKARKALTIM: Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Tenggarong mulai membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Fasilitas tersebut tidak hanya menjadi tempat pembinaan bagi warga binaan, tetapi juga disiapkan sebagai ruang belajar bagi masyarakat, khususnya pelajar, untuk mengenal pertanian, perikanan hingga berbagai keterampilan yang dikerjakan langsung oleh warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, I Wayan Nurasta Wibawa mengatakan SAE dibangun dengan konsep yang memungkinkan adanya interaksi antara warga binaan dengan masyarakat.
“SAE ini tidak hanya dimanfaatkan oleh warga binaan, tapi juga masyarakat. Anak-anak SD, anak-anak SMP bisa ke sini belajar menanam sayuran, sembari memperkenalkan warga binaan yang mau integrasi ke masyarakat,” ucap dia, Sabtu (8/8/2026).
Ia menjelaskan, SAE tidak semata-mata diarahkan menjadi sentra pertanian karena keterbatasan luas lahan.
Konsep utamanya adalah sebagai sentra edukasi yang memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia.
Di tempat tersebut, pelajar nantinya dapat belajar menanam sayuran, memelihara ikan, hingga memahami proses produksi pangan yang selama ini mungkin hanya mereka kenal setelah tersaji di meja makan.
“Anak-anak sekarang tahunya nasi itu di meja makan, sayur juga di meja makan. Mereka hampir rata-rata dengan kemajuan teknologi ini tidak paham bagaimana nasi itu diproses. Makanya di sini kita coba memberikan wadah untuk mengetahui dan belajar berkaitan dengan pertanian, perkebunan ataupun pemeliharaan ikan,” jelas Wayan.
Dia menerangkan, konsep SAE juga memiliki tujuan yang lebih luas, yakni mengurangi jarak sosial antara warga binaan dengan masyarakat.
Ia menilai, proses reintegrasi tidak cukup hanya dilakukan dari dalam lapas, tetapi juga membutuhkan penerimaan dari masyarakat.
Menurutnya, salah satu persoalan yang dapat dihadapi mantan narapidana setelah bebas adalah stigma.
Ketika masyarakat tidak memberikan ruang untuk kembali beraktivitas, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu hambatan dalam proses reintegrasi.
“Tujuannya adalah integrasi, memperkenalkan bahwa warga binaan ini adalah orang-orang yang ternyata hanya tersesat dalam tingkah laku. Keahliannya sebenarnya mampu bersaing dengan masyarakat di luar,” katanya.
Oleh karena itu, Wayan berharap interaksi melalui SAE membuat masyarakat dapat melihat langsung proses pembinaan yang dijalani warga binaan.
“Masyarakat bergabung, jadi kenal. Ternyata mereka dibina dan tingkat risiko kejahatannya sudah menurun. Mudah-mudahan sudah tidak ada lagi risiko kejahatannya,” tutur dia.
Selain kegiatan edukasi, SAE menjadi wadah pengembangan keterampilan produktif warga binaan.
Salah satunya melalui produksi tempe yang dilakukan oleh warga binaan dan saat ini mulai diarahkan untuk dipasarkan kepada masyarakat.
Ia mengatakan bahwa produk yang dihasilkan nantinya harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk aspek halal dan higienis.
Lalu, Lapas kafe sebagai bagian dari kegiatan produktif dan sarana interaksi dengan masyarakat.
“Semua itu untuk integrasi. Kami ingin memperkenalkan bahwa warga binaan ini juga memiliki kemampuan dan bisa bersaing dengan masyarakat di luar,” terang Wayan.
Kasubsi Registrasi Lapas Kelas IIA Tenggarong, Yoga Adi Pramudhito mengatakan saat ini sekitar 35 warga binaan terlibat dalam tahap awal pengembangan SAE.
Jumlah tersebut masih dapat berubah sesuai kebutuhan masing-masing kegiatan setelah fasilitas mulai berjalan secara optimal.
“Untuk awal ini sekitar 35 orang karena pertama harus membersihkan dan membangun sarana yang ada. Nanti kalau sudah selesai tidak sebanyak itu. Akan dibagi sesuai kebutuhan, misalnya perkebunan berapa, pertanian berapa, ikan berapa orang,” jelas dia.
Ia menerangkan, hasil produksi sayuran yang saat ini dipanen masih dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan internal lapas.
“Haasil panen sayuran sementara ini kami jual ke koperasi lapas yang digunakan di dapur,” beber Yoga.
Namun, lanjut dia, apabila kapasitas produksi dan permintaan memungkinkan, Lapas Kelas IIA Tenggarong berencana memperluas pemasaran hingga ke luar lapas.
Kemudian, Lapas Tenggarong juga mengembangkan keterampilan warga binaan juga dilakukan melalui sektor peternakan.
Lapas telah menyiapkan kandang ayam petelur di kawasan Jahab dengan ukuran sekitar 8 x 80 meter dan dirancang untuk menampung hingga 8.000 ekor ayam petelur.
Pihaknya berharap produk yang dihasilkan di dalam Lapas tidak dipandang sebelah mata, tetapi mampu memiliki kualitas yang setara dengan produk yang beredar di luar.
“Produk-produk yang ada di dalam lapas ini juga sama levelnya dengan produk di luar,” pungkasnya. (ASR)










