Ikan Keramba Mati, Air Surut dan Fenomena “Bangai” Diduga Jadi Pemicu

Kondisi ikan jelawat mati di keramba warga muara muntai ulu, Selasa (21/7/26). (Doc. Screenshot FB Tri Naylanajma)
Kondisi ikan jelawat mati di keramba warga muara muntai ulu, Selasa (21/7/26). (Doc. Screenshot FB Tri Naylanajma)
banner 468x60

KUKAR, LINGKARKALTIM: Musim kemarau yang memicu surutnya debit air sungai mulai berdampak pada peternak ikan keramba di Desa Muara Muntai Ulu, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Seorang warga setempat, Tri, harus menelan pil pahit setelah mendapati seluruh ikan jelawat di kerambanya mati mendadak.

Read More
banner 300x250

Tri mengaku sangat terkejut saat mengecek keramba miliknya. Padahal, sehari sebelumnya ikan-ikan pembudidayaan tersebut masih dalam kondisi sehat. Kematian mendadak ini membuatnya mengalami kerugian cukup besar, mengingat keramba tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan utamanya.

“Saya baru datang mengecek pagi ini, semuanya sudah mengapung. Sangat disayangkan, padahal kondisinya kemarin masih sehat-sehat saja. Kemungkinan besar karena air sedang surut dan kondisi air berubah,” ungkap Tri.

Warga menduga kematian massal ikan tersebut dipicu oleh penurunan debit air sungai yang drastis serta perubahan kualitas air menjadi keruh dan berbau tak sedap fenomena yang biasa disebut warga lokal sebagai bangai.

Kondisi ini diduga kuat membuat kadar oksigen terlarut dalam air merosot drastis sehingga ikan tidak mampu bertahan hidup.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Desa (Kades) Muara Muntai Ulu, Husain, membenarkan perubahan kondisi air seperti pasang-surut kerap menjadi tantangan bagi para pembudidaya. Menurutnya, sejauh ini baru ada satu laporan resmi dari warga terkait kasus ikan mati.

“Kejadian seperti ini memang dipengaruhi kondisi air. Kalau air tenang, surut, lalu keramba tidak terkena arus atau tersangkut di dasar tanah, sirkulasi airnya jadi kurang bagus,” jelas Husain, Selasa (21/7/26).

Selain faktor alam, Husain mengimbau para pembudidaya untuk lebih memperhatikan pola pemberian pakan. Pakan berlemak tinggi yang diberikan secara berlebihan saat sirkulasi air sedang buruk dapat memperparah penurunan kualitas air di dalam keramba.

Sekitar 40 persen warga Desa Muara Muntai Ulu menggantungkan hidup dari budidaya ikan keramba, dengan komoditas utama seperti ikan jelawat, toman, dan mas. Ketersediaan air sungai sangat bergantung pada curah hujan, dan penurunan debit air saat ini terjadi akibat minimnya hujan selama hampir satu bulan terakhir.

Atas kejadian ini, warga berharap pihak dinas terkait dapat turun tangan untuk mengecek kualitas air sungai serta memberikan pendampingan teknis. Langkah pencegahan dinilai penting agar musibah serupa tidak meluas dan merugikan pembudidaya ikan lainnya di Muara Muntai Ulu. (Dil)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *