KUKAR, LINGKARKALTIM: Proses pencarian terhadap Hasriarto (37), nelayan asal Desa Muara Badak Ulu yang dilaporkan hilang di perairan Muara Berau, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), kini memasuki hari kedua, Sabtu (18/7/2026).
Tim SAR gabungan terus berupaya menyisir wilayah perairan dengan membagi peta radius yang telah ditentukan oleh Basarnas.
Koordinator Lapangan Damkarmatan Sektor Muara Badak, Adi Susanto menjelaskan bahwa metode pencarian hari ini mengacu pada pembagian zona dan median radius yang disusun oleh Basarnas Balikpapan.
“Untuk metode pencariannya sudah ada pembagian peta wilayahnya dari Basarnas. Sampai sore ini tim kami, pihak keluarga, Basarnas, maupun TNI AL masih terus melakukan penyisiran di laut, namun memang belum ada tanda-tanda keberadaan korban,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (18/7/2026).
Berdasarkan data “Rencana Ops SAR Laka Kapal Nelayan Tenggelam” tertanggal Sabtu, 18 Juli 2026 (hari kedua/H2), Tim SAR Gabungan telah menetapkan Last Known Position (LKP) pada koordinat 0°18’59.37″S 117°36’13.98″E. Area pencarian (Search Plan) seluas total 155 NM² dibagi menjadi tiga sektor utama, dengan pembagian tugas sebagai berikut:
* SRU I: Melakukan pencarian menggunakan Speedboat TNI AL dan Speedboat Damkar dengan area pencarian di sektor timur LKP.
* SRU II: Pencarian seluas 57,8 NM² difokuskan menggunakan Perahu Nelayan dan keterlibatan Keluarga Korban. Sektor ini terletak di sebelah barat daya SRU I.
* SRU III: Pencarian seluas 47,6 NM² dilakukan menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) milik Basarnas, berbatasan dengan SRU I dan SRU II di sisi selatan.
Kondisi cuaca di area pencarian dilaporkan cerah, namun, faktor alam tetap menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan dan petugas.
“Kendala utama kami di lapangan adalah faktor ombak dan arus laut yang lumayan besar di sekitar titik lokasi kejadian atau tempat kapal korban ditemukan karam,” tambah Adi.
Sementara itu, kapal milik Hasriarto yang sebelumnya ditemukan nelayan dalam kondisi setengah tenggelam pada Kamis (16/7/2026) lalu, saat ini sudah berhasil dievakuasi oleh warga ke daratan. Kapal kayu berukuran lumayan besar tersebut kini ditambatkan di area belakang rumah korban untuk diamankan.
Di sisi lain, pihak keluarga korban tidak tinggal diam. Selain ikut turun langsung ke laut (di sektor SRU II), keluarga juga menempuh upaya adat dan spiritual lokal khas suku Bugis (meminta bantuan Sandro atau orang pintar) sebagai bentuk ikhtiar batin agar korban bisa segera ditemukan. Ada kepercayaan lokal yang mengkhawatirkan tubuh korban sempat tertahan di bawah laut sehingga belum bisa muncul ke permukaan.
Secara teknis medis dan pengalaman evakuasi laka air, tim lapangan menyebutkan adanya estimasi waktu kapan biasanya korban tenggelam akan mulai mengapung ke permukaan laut.
“Biasanya berdasarkan pengalaman pencarian yang sudah-sudah, korban laka air berpotensi muncul ke permukaan dalam waktu 3 hingga 4 hari. Hal itu terjadi karena proses alami pembentukan gas di dalam tubuh yang membuat jasad menggembung dan terangkat ke atas. Fase krusialnya berada di rentang 12 hingga 48 jam awal setelah tenggelam,” pungkasnya.
Pencarian direncanakan akan terus berlanjut sesuai rencana operasi Basarnas, dengan harapan korban dapat segera ditemukan. (Dil)










