KUKAR, LINGKARKALTIM: Memasuki penghujung tahun, potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan biasanya mulai mengemuka.
Namun, kondisi tersebut belum terlihat secara signifikan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kepala Bidang Pemasaran Produk Dalam Negeri dan Pengendalian Barang Pokok, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Muhammad Bustani menerangkan hasil pemantauan harga yang dilakukan sepanjang Oktober hingga November menunjukkan bahwa sebagian besar bahan pokok di Kukar masih berada dalam batas stabil.
“Harga-harga sampai minggu ini masih stabil. Beras itu masih di angka Rp14.000–14.500. Gula curah juga stabil di sekitar Rp16.050. Memang sempat naik ke Rp17.000 bulan lalu, tapi minggu ini turun lagi,” jelas dia, Jum’at (28/11/2025).
Meski stabil secara umum, beberapa komoditas mulai menunjukkan kenaikan harga. Di antaranya adalah daging ayam dan cabai komoditas yang memang lazim bergejolak menjelang akhir tahun.
“Ayam mulai naik sekitar Rp5.000 dari sebelumnya Rp30.000 per kilogram. Cabai juga ada gejolak, tetapi masih dalam rentang aman,” ujar Bustani.
Dia menegaskan bahwa volatilitas cabai setiap akhir tahun merupakan pola tahunan yang dipengaruhi cuaca, produksi, dan distribusi.
Situasi harga pangan yang relatif stabil tidak terjadi secara kebetulan. Bustani menyebut, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kukar bersama perangkat daerah terkait rutin melakukan rapat koordinasi mingguan.
“Setiap minggu ada rapat koordinasi pengendalian inflasi. Dari minggu pertama kami sudah pantau terus, termasuk stok dan pergerakan harga,” katanya.
Pendekatan ini, kata dia, memungkinkan pemerintah daerah merespons lebih cepat jika terjadi potensi kenaikan harga komoditas strategis.
Jika terjadi kenaikan harga, Disperindag Kukar langsung mengaktifkan langkah intervensi, salah satunya melalui operasi pasar murah.
Langkah tersebut sebagai strategi paling efektif untuk meredam gejolak harga di tingkat konsumen.
“Kalau harga naik, langsung kami operasi pasar. Itu kan supaya harga tidak melonjak. Operasi pasar terus kami lakukan, hampir tiap minggu,” tegas Bustani.
Dalam operasi pasar tersebut, pemerintah menyediakan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan tepung dengan harga setara distributor, sehingga jauh lebih murah dibandingkan harga eceran di beberapa wilayah.
Bustani juga menegaskan bahwa pihaknya memantau distribusi di tingkat pelaku usaha agar tidak terjadi penumpukan barang yang dapat memicu kelangkaan.
“Pelaku usaha juga kami awasi. Jangan sampai ada barang menumpuk. Barang harus cepat disuplai,” tutupnya. (ADV/ASR)










